by

Memulai Karir Musisi dan Menentukan Langkah Jitu dari Berbagai Sisi

-Music-88 views

Urbannews | Sering kali profesi sebagai musisi dianggap sebagai profesi yang kurang “menjanjikan” dan tidak jarang dianggap sebelah mata. Namun tidak sedikit musisi yang dapat membuktikan serta mematahkan anggapan itu.

Dalam acara webinar yang dihelat FESMI, #DIKSI MARATHON 2 – Eps. 1 dengan judul “Memulai Karir Musisi dan Menentukan Langkah Jitu Dari Berbagai Sisi”, Jumat, 1 Oktober 2021.

Erwin Gutawa (Musisi, Produser Musik, Pemimpin Orkestra), sebagai narasumber berbagi cerita. Erwin memantapkan hatinya berkarya sebagai musisi sejak masih menjadi mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur Universitas Indonesia.

Sambil kuliah, Erwin Gutawa juga bermain musik dan membentuk band. Untuk bekerja? Saat itu belum. Erwin Gutawa bermusik hanya sekedar hobi saja, meski sekarang adalah pilihan hidupnya.

“Saya bukan yang benar-benar kuliah musik. Namun bermain musik, terutama bass, sejak masih SD. Teman main band saya itu Sandy Luntungan dan Dodo Zakaria misalnya,” kata Erwin Gutawa.

Setelah lulus SMA, Erwin Gutawa pernah membentuk Band Trans bersama Fariz RM, yang kini juga menjelma sebagai salah satu musisi legenda Indonesia.

Sambil kuliah, Erwin Gutawa muda bermain band dan sering manggung. Sewaktu kuliah, Erwin Gutawa punya banyak pertimbangan, misalnya saja, setelah lulus, mau bekerja menjadi arsitek atau melanjutkan hobinya sebagai musisi.

“Akhirnya saya memutuskan bahwa musik lebih tepat buat saya, karena saya menjalaninya sejak masih kecil. Apalagi orang tua dan keluarga nggak masalah saya bermusik dan tidak mengejutkan karena sejak kecil saya sudah main musik,” kata Erwin Gutawa.

“Untuk menjadi musisi, saya disetujui dan didukung. Saya bikin (band) Karimata malah belum lulus kuliah,” lanjut Erwin Gutawa yang pernah ikut lomba menyanyi kala masih duduk di bangku SD.

“Musik itu sudah hobi meski sambil sekolah. Saat itu saya merasa musik itu asyik banget dan cocok buat saya karena bisa gaul sama teman dan berkreasi,” ucap Erwin Gutawa.

Hal senada juga disampaikan narasumber lainnya, yakni vokalis band LaidThisNite, Beboy, yang memutuskan untuk hidup dari bermusik dan berkarya. Beboy menjadi vokalis Band LaidThisNite sejak 2013, atau setahun setelah band kafe itu dibentuk.

Kala itu Beboy menggantikan vokalis lama yang keluar. Saat pertama diajak bergabung LaidThisNite, lagu-lagu motown yang dihafal Beboy tidak banyak, padahal band-nya tersebut dikenal sering memainkan musik motown, soul dan funk, sampai sekarang, meski melebar ke musik-musik populer.

“Yang membedakan dengan band kafe lain, musik LaidThisNite ini unpredictable. Dan saya pede aja kalau nyanyi, karena semua musik itu enak didengarkan. Penonton banyak yang nggak tahu lagunya tapi melihat mereka ikut joget aja, rasanya udah senang,” kata Beboy.

Mengutip Jeane Phiaisa atau akrab disapa Alsa sebagai moderator yang juga dikenal sebagai musisi dan penabuh drum, Industri musik sekarang terkesan memanjakan para musisi untuk berkarya. Namun, meski terkesan mudah, musisi tidak bisa sembarangan memasarkan karyanya.

Sekarang ini eranya musik indie yang semua produksi hingga promosi musiknya bisa dikerjakan sendiri (tanpa label musik). Meski ‘mudah’ dan bisa dikerjakan sendiri, para musisi tetap tidak bisa asal indie. Keyakinan dan pilihan berkarya sebagai musisi harus diputuskan dari dalam hati, bukan karena faktor lain.

Erwin Gutawa sebagai musisi ‘generasi lawas’ tidak mau ketinggalan. Meski kini teknologi memproduksi hingga mempromosikan karya sudah berkembang, Erwin Gutawa tetap mengikuti setiap perkembangan di industri musik meski usaha untuk terus berkarya tetap tidak berubah dan masih sama seperti dulu.

“Saya juga masih main musik sampai sekarang seiring perkembangan teknologi, dan saya masih bisa merasakan. Semakin maju, ide bermusik itu harus semakin banyak, dan musik tetap harus ditempatkan di posisi paling atas,” kata Erwin Gutawa.

“Tentunya saya tidak bisa main musik seperti anak-anak sekarang, tapi saya mengikuti dan mengimbangi musik anak sekarang. Yang penting lengkapi ilmu dan pengetahuan musik yang memadai,” lanjut ayah penyanyi Gita Gutawa tersebut.

Bagi Erwin Gutawa, masing-masing musisi dan genre musik itu punya kekuatan masing-masing yang tidak bisa saling dibandingkan. “Ketika kita tahu triknya, dan tahu musik masa kini, kita bisa mengikuti perkembangan teknologi musik,” kata Erwin Gutawa.

Sementara, Beboy dari yang biasa-biasa saja, sekarang total banget kalau tampil di panggung bersama bandnya itu. Tidak hanya kualitas suara yang terus dijaga, Beboy juga sengaja pakai outfit yang nggak biasa untuk membedakan dengan vokalis band lain hingga menjadi ciri khas.

“Perform itu kuncinya harus all out, sejak mulai latihan sampai tampil diatas panggung. Itu harus sepaket. Dan gaya itu (pakai baju gombrong misalnya), gue pertahankan sampai sekarang, termasuk gaya rambut, supaya beda aja sama yang lain,” ucap Beboy.

Bagi Beboy, lagu yang dinyanyikan, musik yang dimainkan hingga penampilannya di panggung bisa memuaskan pihak pengundang dan penonton. “Penonton datang itu sudah spent money dan meluangkan waktu, jadi kita harus all out,” kata Beboy.

Ketua Umum FESMI Chandra Darusman, acara #DIKSI MARATHON 2 gagaanya ini sebagai bentuk leterasi sekaligus edukasi buat para pelaku, khususnya mereka yang ingin menambah ilmu di industri musik.

“FESMI itu kapal besar untuk menampung semua musisi, semua profesi punya hak dan tanggung-jawab profesi. Kami ingin meningkatkan skill dan soft skill musisi muda. Kapal besar ini semoga didukung semuanya agar badai apapun bisa kita hadapi.” pungkas Chandra Darusman, menutup perbincangan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed