by

Lembaga Sensor Film Terus Gelorakan Semangat Sensor Mandiri

-Movie-109 views

image

Jakarta, UrbannewsID. | Mengikuti diskusi panel selama 2 hari berturut-turut yang diselenggarakan Lembaga Sensor Film periode 2015-2019, sangat menarik. Kegiatan yang digelar untuk memaknai peringatan 100 tahun atau satu abad keberadaan sensor film di Indonesia yang jatuh pada tanggal 18 Maret 2016 lalu, sekaligus juga dalam mempersiapan menerbitkan sebuah buku. Menariknya, bukan hanya tema bahasan yang diangkat, tapi nara sumber dan juga para peserta diskusi yang beragam.

Di hari pertama, diskusi panel mengangkat tema “Masyarakat Sensor Mandiri Wujudkan Kepribadian Bangsa” dengan narasumber Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Guru Besar dan mantan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Drs. Hajriyanto Y Thohari, MA. Dan, di hari kedua dengan tema “Sinkronisasi Kebijakan Instansi/Lembaga Terakait Dalam Sensor” yang menghadirkan Ir. Azhar Hasyim MT dari Kemkominfo serta Dr. HM Asrun Ni’am Sholeh, MA dari KPAI sebagai pembicara.

Mereka semuanya, pada intinya sepakat dalam penyensoran sebuah film, harus dipastikan apakah suatu adegan, dialog, atau gambar dalam suatu film ditemui bahan atau materinya mengandung unsur pornografi, kekerasan rumah tangga dan anak, serta penyesatan yang berdampak buruk langsung bagi masyarakat, agama dan negara. Komaruddin Hidayat mengatakan, dalam penyensoran harus juga dipahami konteks keseluruhan film itu dibuat untuk kepentingan apa?

Menurut Komarudin, maksudnya apakah film ini dibuat untuk kepentingan pendidikan, merekam sejarah, termasuk juga memotret seni budaya yang berkembang dan tumbuh ditengah-tengah masyarakat. Misalnya, film tentang perjuangan seorang ibu yang melahirkan dan terlihat perutnya dimeja operasi tidak perlu di blur, sepanjang tidak vulgar. Karena, film ini dibuat untuk kepentingan pendidikan kedokteran. Maka, pemahaman dalam penyensoran terhadap sebuah film sangat penting sehingga mampu menempatkan klasifikasi film lebih jelas.

Sementara, Hajriyanto Y Thohari mengemukakan yang terpenting para penyensor film, baik Anggota Lembaga Sensor Film maupun Tenaga Sensor Film, semuanya berpegang pada peraturan perundang-undangan yang terkait dengan penyensoran, di antaranya adalah Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman, Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga, dan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2014 tentang Lembaga Sensor Film itu sendiri.

image

Hal yang sama juga disampaikan dua pembicara hari kedua, yaitu Ir. Azhar Hasyim MT dari Kemkominfo dan Dr. HM Asrun Ni’am Sholeh, MA dari KPAI. Untuk melindungi masyarakat dari pengaruh negatif film/iklan film, berdampak terhadap hancurnya tatanan kehidupan masyarakat, baik dari segi ideologi, sosial-politik, dan eksistensi sebuah bangsa. LSF tidak bisa berjalan sendiri untuk memainkan peran sebagi penjaga gawang memfilterisasi kedigjayaan film yang bisa merubah perilaku dalam hitungan detik.

Apalagi, hadirnya Generasi Millennial sebuah terminologi generasi sebagai sebuah budaya yang saat ini banyak diperbincangkan oleh banyak kalangan, geliatnya begitu dinamis. Sebuah genarasi anak muda yang lahir dalam rentang waktu 1980’an hingga 2000. Bertumbuh di era pergantian abad dimana anak-anak muda tersebut mengalami sebuah transformasi gaya hidup baru, terutama sejak dikenalnya pemanfaatan teknologi. Hanya dengan ujung jari, mereka bisa mengkonsumsi segala macam bentuk informasi dan juga hiburan yang disukai terbuka secara telanjang dan terang benderang.

Tanpa filterisasi apa jadinya! Sudah seharusnya diperlukan sinergitas antar pelaku pemegang kepentingan, baik para penggiat perfilman dan juga para intelktual untuk bersama-sama mengawal dan merumuskan proteksi sejak dini bagi masyarakat untuk siap menerima asupan informasi apapun. Sinkronisasi kebijakan antar lembaga yang memiliki kepentingan yang sama tidak tumpang tindih dan saling menyalahkan. Sensor Mandiri yang dikampanyekan Lembaga Sensor Film, bisa dipakai sebagai alternatif solusi.|Edo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed