Konser Jejak Candra Darusman, Merajut Rindu Dalam Irama Lagu

Music412 Dilihat

Urbannews | Indonesia adalah lahan emas bagi para musisi asing mendulang dollar. Bagaimana tidak, nyaris setiap tahun, bulan dan bahkan berbilang minggu, kita disuguhi tontonan musisi asing yang bergaya di panggung Indonesia. Tidak hanya di Jakarta, atau kota-kota besar lainnya, bahkan sampai pula merambah ke Kota setingkat kabupaten pun kebagian dikunjungi.

Apa kabar musisi Indonesia?. Semoga saja jargon ‘menjadi tuan rumah di negeri sendiri’ benar-benar bukan sekedar kata-kata apalagi pemanis rasa, tapi masih berlaku pemaknaannya. Karena itu artinya, musisi dan musik lokal harus pula mendapat apresiasi yang sama dengan musisi internasional yang berseliweran konser di Indonesia.

Kini saya bersyukur, masih ada orang-orang yang berani dan untuk terus mengangkat, menempatkan, dan mementaskan musik dari negerinya sendiri sebagai bentuk penghargaan terhadap musisi dengan seabrek karya lagu evergreennya. Salah satunya, lewat “Konser Jejak Candra Darusman”, Jumat malam, 13 Oktober 2023, di Ciputra Artpreneur, Jakarta.

Bersama Nada Jelajah Dunia dan ISTA Indonesia, Yovie Widianto, yang ikut terlibat gelaran konser tersebut berujar, bahwa dirinya memberikan apresiasi terhadap musisi Indonesia yang telah berkontribusi dalam perjalanan karir dirinya juga para musisi lainnya, maupun perkembangan musik di Indonesia, yakni Sang Maestro Candra Darusman.

Yovie lebih lanjut mengutarakan, Konser Jejak Candra Darusman seperti sedang menceritakan sebuah kisah hidup seorang musisi  yang ditampilkan melalui rangkaian kolaborasi musik antar sesama seniman musik Indonesia. Menampilkan keragaman karya musik Candra Darusman: Karya musik, lirik dan aransemen yang telah memperkaya dan ikut membentuk musik Indonesia selama hampir 50 tahun ini.

“Panggung Terima Kasih ini merupakan sebuah perdana dari rangkaian panggung apresiasi dari kami, insan musik Indonesia kepada musisi, pencipta lagu, tokoh musik Indonesia yang bertujuan mengedukasi masyarakat dan generasi musik Indonesia yang akan datang tentang sejarah musik Indonesia melalui tokoh-tokoh dan karya mereka,” tukas Yovie Widianto diatas panggung saat membuka konser.

Sekitar dua setengah jam, bergema dan menyeruak puluhan lagu dalam keragaman tema karya sang maestro musik Indonesia Candra Darusman, yang mengharubiru seisi ruang Ciputra Artpreneur Jakarta, Jumat (13/10/2023) malam. Sebuah narasi bunyi, baik itu melodi, ritmik dan lirik, meluncur dari YOVIE SEMVA yakni; Dodi Oris, Fathur, Marcel Siahaan, dan Rio Febrian mengajak yang hadir untuk menyelami makna cerita dibalik sebuah karya lagu.

Mereka berempat sebagai penampil pertama membuka Konser Jejak Candra Darusman, lewat tembang Ku Lama Menanti, Jangan Salah, Memori, serta Pemuda. Setiap komposisi yang dibuat Candra Darusman memang terkandung gagasan, pemikiran, perenungan, emosi, keprihatinan, serta gejolak jiwa. Dan, Dodi Oris, Fathur, Marcel Siahaan, juga Rio Febrian mampu mendeliver makna setiap lagu dengan baik.

Mencerna karya lagu-lagunya Candra Darusman memang sulit, bukan saja bercerita tentang apa tapi bicara tentang siapa? Apalagi, syairnya dipenuhi kata-kata manis dengan balutan nada melodius, seperti (melompat :red) yang dilantunkan medley Yovie & Nuno yaitu; Rosemarie, Karmen, dan Minnie. Ya, mungkin hanya Candra dan Tuhan yang tahu lagunya ditujukan untuk siapa. Kecuali lagu berjudul Kunyatakan Cinta, yang khusus ditunukan untuk istri tercinta.

Konser malam itu cukup spesial, sederet tembang meluncurkan tanpa jeda lewat karakter suaranya yang khas para penampil diantaranya; HiVi! membawakan lagu Matahari Di Hati dan Semangat Jiwa Muda. Berikutnya Bilal Indrajaya dengan lagu Ku Tak Tahu Apa Yang Kau Inginkan serta lagu Untukmu. Setelah itu, giliran Humania lantunkan Waktu Kian Berarti serta Kisah Kehidupan.

Menukil kalimat diawal, ternyata malah yang ‘lokal lebih vokal’, penyanyi maupun musisi negeri sendiri, Indonesia, tidak kalah hebatnya dan tidak kalah moncernya dari penyanyi mancanegara. Buktinya, penampil selanjutnya di konser malam itu, Rendy Pandugo berhasil mengajak penonton ikut bersenandung lewat lagu Balada Seorang Dara dan Indahnya Sepi.

Semakin malam keriangan tak memudar, Vira Talisa mensyahdukan suasana dengan melantunkan lagu Melati Suci. Berikutnya, Ardhito Pramono, The Groove, maupun Yura Yunita menghangat rangkaian gelaran konser dengan deretan lagu berurutan yaitu; Tempat Berpijak, Dara, Nada-nada Gembira, Rio De Janeiro, Pesta, Burung Camar, hingga Rintangan.

Konser Jejak Candra Darusman akhirnya dipungkasi oleh sipemilik karyanya sendiri yakni Candra Darusman. Sang maestro menuntaskan pegelarannya lewat tembang yang konon tidak pernah dibawakan diatas panggung yakni; Sendiri, Geneva, Kau, It’s Amazing, dan ditutup Kekagumanku.

Konser Jejak Candra Darusman sebagai bentuk apresiasi, mengingatkan Saya pada seorang sahabat musisi yakni almarhum Glenn Fredly. Nyong Ambon yang satu ini juga telah membuat konser serupa sebagai ucapan terima kasih kepada para musisi. Menurut Glenn, konsernya ini seperti sedang merawat artefak karya-karya musik bagus para musisi Indonesia untuk tetap abadi, agar tidak hilang ditelan waktu, lewat konser Tanda Mata’ sebagai songbooknya.

Menarik memang. Menurut hemat saya (penulis :red), bahwa musik akan terus berkembang sejalan dengan kehidupan manusia. Musik telah menjadi dirinya sendiri dalam tataran disiplin ilmu maupun kesenian. Tidak aneh, jika musik telah menjadi pembahasan khusus sejak era Pythagoras. Sebagai karya, musik adalah manifestasi perasaan manusia terhadap apa yang dihadapi dalam kehidupannya. Bahkan seorang filsuf atheis seperti Friedrich Nietzsche [1844-1900] berujar, hanya musik yang memberikan arti dalam hidup manusia.

Kita –saya dan Anda—tentu meyakini, bahwa musik adalah senjata terhebat yang pernah diciptakan manusia. Artinya, idealisme pemrakarsa konser tersebut diatas sejatinya sedang memperjuangkan ekosistem industri musik kedepan lebih baik. Bukan sesuatu yang baku dan diam, tapi idealisme adalah sebuah perjalanan, dan mempunyai peranan penting dalam perkembangan intelektual dalam bermusik, saat musisi berpikir bahwa musik adalah perjalanan hatinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 komentar

  1. Wow, superb blog structure! How long have you been blogging for?
    you make blogging glance easy. The overall look of your website is fantastic,
    let alone the content material! You can see similar here sklep internetowy

  2. Hi! Do you know if they make any plugins to help
    with Search Engine Optimization? I’m trying to get my
    blog to rank for some targeted keywords but I’m not
    seeing very good success. If you know of any please share.
    Cheers! You can read similar article here: Najlepszy sklep