by

Ketua Bekraf Triawan Munaf Nyatakan Dukungannya Terhadap Penyelengaraan UIA 2016

-Movie-91 views

IMG_20160121_103931

Jakarta, UrbannewsID. | Gaung Usmar Ismail Award 2016 dalam dua bulan terakhir ini, cukup menggelitik dan bikin penasaran para insan film tentang keberadaannya. Terlebih lagi, pemberitaan seputar peresmian logo, bentuk piala dan kontrak kerjasama pihak penyelenggara UIA 2016 dengan Trans7 sebagai official partner TV, seminggu lalu diperkenalkan kepada awak media dan tamu undangan.

Beragam dukungan pun mengalir, baik Lenny Marlina artis yang pernah terlibat dalam film takhir karya H. Umar Ismail, Widyawati, ParamithaRusady, hingga Maman Wijaya Kepala Pusbangfilm Kemendikbud, Ahmad Yani Basuki Ketua Lembaga Sensor Film (LSF), Manoj Punjabi sang pemilik MD Entertainment, dan para penggiat perfilman yang ada di tanah air, UIA 2016 bak tamu agung keberadaannya untuk memperkuat ragam festival atau anugerah sejenis yang sudah ada.

Bahkan, Ketua Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) Triawan Munaf yang memiliki kekaguman atas karya-karya H. Usmar Ismail sebagai sutradara yang cerdas, memiliki ide yang sangat menarik. Triawan Munaf akan mengusulkan film “Lewat Djam Malam” karya Usmar Ismail tahun 1954, menjadi tema Hari Film Nasional (HFN) ke-66 pada 30 Maret tahun ini.

Menurut Triawan dalam pertemuan nonformal dengan Adisurya Abdy selaku Ketua Penyelenggara UIA dan Teguh Imam Suryadi sebagai Ketua Bidang Penjurian dan Kehumasan UIA yang berlangsung singkat di salah satu kafe, cerita film yang dibintangi AN Alcaff dan Netty Herawati itu mengangkat Isu anti korupsi ini sejalan dengan semangat Nawa Cita pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Saya berharap anti korupsi menjadi tema besar Hari Film Nasional tahun ini. Film “Lewat Djam Malam” karya Usmar Ismail yang juga membawa semangat anti korupsi itu, sangat tepat menjadi film yang diputar pada puncak perayaan HFN nanti,” kata Triawan, Selasa (19/1/2016).

Dalam kesempatan tersebut, Triawan menyatakan dukungannya atas penyelenggaraan UIA yang akan berlangsung pada 2 April 2016 mendatang. Dia juga berharap ajang penghargaan Usmar Ismail Award menjadi momentum bagi peringatan Hari Film Nasional, sekaligus menjadi ajang penghargaan perfilman Indonesia yang sebenarnya.

Karena sejak awal perfilman hadir di Indonesia, wartawan telah menjadi bagian di dalamnya. Saya mengapresiasi kegiatan UIA yang jurinya melibatkan wartawan yang memang dekat dengan dunia film. Sebagai bentuk dukungan terhadap UIA, saya berupaya menindaklanjuti rencana kegiatan malam puncak UIA di Istana Bogor, dan akan menyampaikannya rencana yang mulia ini kepada Presiden,” tandas Triawan Munaf.

Sebagai gambaran, film “Lewat Djam Malam” karya H. Usmar Ismail sangat menarik sebagai dokumen sejarah, terutama apabila dilihat dari titik berdiri kita sekarang. Bukan hanya sekedar menjaga warisan budaya visual saja, tetapi lebih dari itu. Ini soal upaya pelestarian ingatan sejarah, sesuatu yang diangan-angankan Usmar Ismail agar film ini menjadi sumber pengetahuan agar kita mampu menghargai bekas pejuang.

Film Lewat Djam Malam memang sungguh multi-komplek, karena kajiannya dapat dilakukan dari berbagai sudut pandang. Usmar Ismail menggambarkan situasi yang mendekati realita yang dihadapi masyarakat Bandung pada tahun 1950an, sekaligus persoalan bangsa yang harus diatasi segera. Isu yang selalu sama harta dan korupsi, yakni mengatasnamakan perjuangan dan revolusi yang belum berakhir untuk urusan perutnya sendiri.

Sebagai bekas pejuang, Usmar Ismail mengangkat cerita bukan diarahkan untuk menghakimi, tetapi justru sebaliknya untuk mengingatkan. Bagaimana seharusnya kita bisa saling menghargai, terutama kepada mereka yang telah memberikan sebesar-besar pengorbanan nyawa mereka, supaya kita semua yang hidup pada saat ini dapat menikmati segala kelezatan buah kemerdekaan, bukan menuntut apapun buat diri mereka sendiri.|Edo (Ragam Sumber&Foto Istimewa)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed