by

Kembali ke Musik Sendiri, Semar Kembar Production Ingin Membawa Musik Keroncong Tetap Ada dan Tidak Pernah Mati

-Music-95 views

image

Jakarta, UrbannewsID. | Mengapa musik keroncong tidak diminati kalangan muda? Pertanyaan ini kerap kali muncul dibenak banyak orang, baik itu di kalangan pemerhati musik, atau diruang-ruang diskusi para pelaku keroncong itu sendiri. Apakah lagu-lagu keroncong terdengar asing dan cenderung monoton. Sehingga, dianggap bertentangan dengan karakteristik jiwa muda yang serba menghentak, tegas, cepat, dan gemerlap, meskipun kadang muncul juga lembut dan manisnya.

Konon, lagu-lagu keroncong di telinga kalangan muda memang terasa asing dan aneh. Penyajian vokal yang dibawakan oleh para penyanyi keroncong memberi kesan lamban dan melankolis. Lamban karena memang lagu keroncong sebagian besar menggunakan tanda tempo andante yang berarti lambat. Pembawaan melodi dan syairnya (vokal) bersifat improvisatoris, bercengkok dan gregel. Sedangkan ritme sering tidak tepat pada pukulan yang seharusnya, atau disebut menggantung alias nanggung.

Dari segi lagu-lagu yang dibawakannya pun, rupa-rupanya khazanah kekayaan lagu-lagu musik keroncong lamban dalam pertambahan referensinya. Sehingga yang muncul dalam setiap kali penampilan lagu-lagunya cenderung itu-itu saja (monoton). Ditambah bila dilihat dari bentuk lagunya, lagu-lagu keroncong memiliki beberapa bentuk yang sudah tetap (baku), yakni keroncong asli, langgam keroncong, stambul I, stambul II.

Jadi ada benarnya, bila ada pandangan musik keroncong itu monoton bahkan cenderung kurang bisa berkembang. Sehingga, musik keroncong para penikmatnya adalah para kalangan sepuh, dan kurang bisa diminati kalangan anak muda. Bahkan lebih ekstrim lagi, televisi sebagai media ruang publik pun sepertinya enggan memutar atau memiliki program acara musik keroncong. Hanya TVRI dan beberapa stasiun televisi lokal saja sepertinya.

Gambaran tersebut merupakan fakta tentang betapa termarginalkannya musik keroncong di kalangan muda. Sebenarnya jika ditelisik lebih dalam, musik keroncong merupakan salah satu genre musik yang berkembang di Indonesia. Sebagai sebuah genre musik, keroncong memiliki kekhasan dalam banyak hal. Mulai dari alat yang digunakan dalam musik keroncong, memiliki keunikan berbeda dibanding dengan alat-alat musik band yang berkembang di kalangan muda.

Bagitupun, cara memainkan alat-alat musik tersebut juga memiliki karakteristik permainan yang khas. Pembawaan vokal ternyata juga memiliki corak tersendiri yang berbeda dengan vokal musik populer. Bila dilihat secara detail kekhasan yang ada pada musik keroncong akan tampak sangat banyak. Namun secara menyeluruh kekhasan musik keroncong bisa dikelompokkan dalam beberapa segi, yaitu tampak pada: bentuk, harmoni, ritme, jenis alat musik yang digunakan, dan pembawaan. Lantas, lagi-lagi muncul pertanyaan kalau dianggap unik dan khas kenapa kurang diminati? Apanya yang salah kalau begitu?

Gambaran dan pertanyaan diatas jawabannya sederhana. Saat ini yang diperlukan adalah keberanian dan pandai membaca zaman yang terus berubah. Tantangan budaya di era global, mendorong para musisi dan penyanyi keroncong harus berinovasi, melakukan perbaharuan dalam musiknya supaya lebih menarik minat anak-anak muda sekarang. Tidak perlu menunggu orang untuk menyukai, tapi perkenalkan dan suguhkan sesuai selera mereka tanpa meninggalkan akarnya.

Sikap diatas inilah yang dilakukan J Sarwono SH, penata musik, keyboardist dan pencipta lagu ‘Hilangnya Seorang Gadis’ yang dinyanyikan oleh Deddy Dorres dan populer di tahun 70’an bersama grup bandnya Freedom of Rhapsodia dari Bandung. Lewat label ‘Semar Kembar Production’ miliknya, serta dibantu dua anaknya serta istrinya, seorang penyanyi keroncong yang cukup terkenal, memproduksi album keroncong, keroncong-dangdut, campursari, album anak-anak, juga album pop rock religi Islami.

Sarwono yang sudah lama vakum dari dunia musik, menurut Bobby ‘Bosa’ Sarwono, putra J Sarwono yang kini diminta ayahnya menjadi Direktur Produksi SK Pro. Ayahnya sejak tahun 2013 balik ke musik, tak hanya sebagai musisi atau pencipta lagu, tapi juga membangun kerajaan bisnis musik di rekaman bernama Semar Kembar Production dengan tagline “Kembali ke Musik Sendiri”. Lebel yang dilengkapi pula studio rekaman dan tempat latihan yang dibangunnya ini, Sarwono ingin menyajikan musik keroncong dengan suguhan yang lebih segar, variatif dan inovatif agar tidak terpinggirkan.

Saya ingin menyuguhkan musik keroncong dengan rasa baru. Rasa yang bisa dinikmati oleh siapa saja, tanpa sekat usia maupun sosialnya. Saya ingin mendudukkan musik keroncong sejajar dengan genre musik lainnya di etalase yang sama di industri musik Indonesia. Musik keroncong bukan hanya musik klangenan saja, tapi musik keroncong bisa beradaptasi dan bahkan dikawinkan dengan jenis musik lainnya, seperti rock, jazz, blues, reggae dan bahkan elektronik musik sekalipun, tanpa meninggalkan aslinya,” jelas J Sarwono, saat jumpa pers memperkenalkan lebel dan produknya di Kawasan Fatmawati, Jakarta, Kamis (12/5) siang.

Turun gunungnya Sarwono, bisa dirasakan di single Elegi Sang Bidadari karya Harry Yamba yang sekaligus jadi judul album sang istri, Tuti Maryati yang dirilis akhir tahun 2015. Menurut Sarwono, pada awalnya ada beda pendapat dalam memahami pakem keroncong antara saya dan Mbak Tuti yang murni datang dari dunia keroncong. Itu yang bikin album Elegi Sang Bidadari kami garap panjang, dua tahun. Kompromi itu datang juga, saat Intan Studio mendapat dukungan sound Engineer Heru Purnomo alias Ipung, penata rekam yang gaul dengan musik tradisional yang eksploratif, seperti Campursari, Keroncong Rock, Congdut dan sejenisnya.

Tanpa menunggu lama, Semar Kembar Production yang didukung tema kreatif menunjukkan taringnya lewat 5 album sekaligus yang diproduksinya ini, siap hadir menjumpai para penggemar musik keroncong dengan balutan yang berbeda. Antara lain, album Keroncong Dangdut (CongDhut) Ratna Listy dengan single jagoan “Tresno Jaman SMP” berduet dengan Deddy Dores, Ryo Domara lewat album Religi Of Rock, sang legenda musik keroncong Mus Mulyadi dengan album “Legenda Biru”, duet Bagus dan Sindy dalam album Campusari “E…Jamune”. Termasuk, menyusul kemudian album pop anak-anak.|Edo (Foto Dudut SP)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed