by

Jember Fashion Carnaval, Menghidupkan Pariwisata Kota Jember

-Art & Culture-269 views

image

Jakarta, UrbannewsID. | Kota Jember di Jawa Timur bukanlah tujuan pariwisata utama wisatawan ke Jawa Timur. Pamornya masih kalah dengan Probolinggo yang memiliki Gunung Bromo dan Semeru, Kota Malang yang memiliki banyak lokasi wisata termasuk Kota Batu yang sejuk, atau Banyuwangi yang gencar mempromosikan pariwisatanya. ​

imageJember bukan tidak memiliki obyek wisata. Karena di sana ada Pantai Puger, tempat nelayan tradisional berjibaku mencari ikan di tengah ombak yang ganas, Pantai Pasir Putih Malikan (Papuma), Watu Ulo yang bersanding dengan Papuma, air terjun Jember, Pemandian Patemon dan Taman Botani Jember. Tetapi beberapa obyek wisata itu bertahun-tahun tidak dilirik oleh wisatawan, karena minimnya infrastruktur dan sulitnya mencapai lokasi wisata yang jauh dari pusat kota itu.

Keadaan berubah 180 derajat sejak penata busana Dynand Fariz menggelar Jember Fashion Carnaval (JFC) pada pada tahun 2001, yang ide konsepnyanya tidak jauh beda dengan acara serupa, seperti festival kostum di negara-negara di benua Amerika, seperti festival Rio Janeiro.

Jember Fashion Carnaval (JFC) awalnya diadakan dilakukan di dalam lingkup terbatas. Penggagas event ini, Dynand Fariz, menyelenggarakan Dinand Fariz Fashion Week, di mana di dalamnya dimasukan juga tren-tren global. Berangkat dari situ mulai terpikirkanakan menjadi sebuah hal menarik bila suatu saat acara semacam itu dilakukan dengan jumlah peserta yang jauh lebih banyak.

Maka keluarlah kami dari tempat terbatas, ke event outdoor di alun-alun kota. Sifatnya waktu itu masih terbatas, kami mengajak warga yang kebetulan melakukan kegiatan di alun-alun untuk ikut berparade,” tutur Event Director JFC, Budi Setiawan, atau akrab disapa Iwan

image

Pada awalnya masyarakat Jember melihat kegiatan itu sebagai kegiatan yang aneh. Mungkin masyarakat berpikir kelompok ini orang-orang gila, karena tampil dengan dandanan berbeda, menari di pusat kota, di tempat masyarakat melakukan olahraga di alun-alun kota. Tetapi kegiatan itu bertujuan untuk mengedukasi masyarakat. Dan dalam kesempatan-kesempatan yang dilakukan kita datang ke komunitas-komuntias, ke sekolah-sekolah, minta waktu presentasi. Di situlah penggagas awal menjelaskan tentang sebuah event yang di dalamnya terdapat edukasi, entertainment kemudian economic benefit untuk kota Jember, serta hal-hal positif yang lainnya.

Hingga banyak pula pertanyaan mengapa event ini dilakukan di Jember, yang tergolong kota kecil. Bukan hanya pertanyaan, tetapi banyak pula orang-orang, termasuk masyarakat yang pesimis. Mereka tidak yakin ini akan bisa mengangkat kota Jember. Namun demikian Dynand Fariz tidak patah semangat. Ada dua alasan mengapa Dynand Fariz ingin mengadakan event itu di Kota Jember. Pertama, penggagas acara ini (Dinand Fariz) lahir di kota Jember. Dinand Fariz ingin kota kelahirannya bisa melahirkan sebuah hal yg bisa membanggakan, bisa membuat Jember terkenal. Karena tidak jauhd ari waktu itu, Jember dikenal dengan hal-hal negatif seperti adanya kasus Ninja, kota kriminal dan lain-lain yang sering muncul di televisi.

Sebagai creator dan penggagas, Dinand Fariz ingin menularkan keahliannya menjadi sebuah kegiatan, sebuah wadah bagi masyarakat kota Jember, sehingga masyarakat Jember menjadi bangga dengan menyebutkan Kota Jember sebagai Kota Karnaval Dunia. Respon yang muncul dari pemerintah dan masyarakat ketika JFC diselenggarakan, yang paling sering yang dihadapi adalah respon kecurigaan.

Hal itu wajar karena berangkat dari masyarakat yang tidak tahu kita ini siapa, pemerintah tidak tahu kita ini siapa? Ada kepentingan apa dari event ini. TEtapi kami meyakinkan bahwa evetn ini tidak lain untuk kegiatan social yang di dalamnya kita ajak anak-anak muda Jember yang di dalamnya bisa menghasilkan karya,” tambah Iwan.

Ada komentar yang mengatakan bahwa anak-anak muda (peserta JFC) hanya diperdaya untuk menjadikan penggagasnya terkenal. Ada lagi yang mengatakan bahwa dari sisi fashion ini punya tujuan baik, tapi karena ini melibatkan orang banyak, dan ini akan menjadi sebuah factor politik, pihak JFC tidak tahu apa-apa dalam hal politik. ​​​​​​​​​

JFC ke satu dan kedua sama sekali belum ada atensi yang cukup sifnifikan. Barulah pada JFC ketiga mulai mendapat perhatian, bahkan mendapat liputan dari media internasional, yaitu oleh Reuters. Reuter hadir di Jember setelah mereka melihat penampilan JFC di Bali. Sejak itu setiap event di Jember Reuter selalu datang, dan foto-foto mereka selalu diambil di media-media internasional dan banyak yang menjadi foto headline.

Sebelum itu liputan Reuter, JFC masih dianggap sebelah mata. Bahkan ada
kontributor media nasional di jember yang mengatakan JFC hanya ferstival biasa seperti Agustusan, dan tidak perlu diliput. Setelah Reuters menyebarkan foto-foto mereka di berbagai media nasional dan internasional, perhatian terhdap JFC sangat tinggi. Setiap event berlangsung, bulan Agustus, berbagai media dalam dan luar negeri pasti datang, diikuti dengan fotografer professional maupun amatir.

Pemerintah daerah yang semulai abai, mulai menaruh perhatian kepada JFC. Pada tahun ke delapan, pemerintah memperhatikan dengan sungguh-sungguh dan berusaha membantu penyelenggaraan event ini. Hal-hal yang pada awalnya sulit, kemudian menjadi mudah bagi penyelenggara JFC.

Kami memiliki kebanggaan, masyarakat Jember mencintai JFC. Kita berharap JFC ke depan bisa jadi milik Indonesia dan milik dunia. Kekayaan JFC ke depan kita coba rumuskan lebih bagus lagi. Kita berencana aka nada event yang bisa dilihat dunia internasional tidak hanya di runway pada bulan Agustus, barangkali event tentative, ini kami rumuskan,” kata Kepala Kantor Pariwisata Kabupaten Jember, Sandy S Hasan.

Saat ini koordinasi yang bagus antara JFC dengan Pemerintah Kabupaten Jember khususnya Kantor Pariwisata Jember sudah sangat bagus, tetapi ke depanmasih memerlukan sentuhan2 agar masyarakat internasional punya waktu yang luas datang ke Jember.

Sandy menambahkan, Jember memiliki kekayaan ini sampai hari ini belum terkeksplor secara bagus. Jember memiliki pegunugan, laut dan panti yang indah. Namun secara pariwisata, lokasi-lokasi itu harus dimake over, dipermak dulu, supaya bisa berkompetisi jadi destinasi unggulan.

Sejak 2003 ada ide unik dan kuat yang menjadikan Jember dikenal di Indonesia maupun mancanegara. Inisiatif itu sekarang sudah sangat dikenal yaitu Jember Fashion Carnaval. JFC tahun 2015 lalu sudah menunjukkan kelasnya sebagai karnaval kelas internasional. Banyak media kameraman fotografer yang dating ke Jember untuk menikmati mendokumentasikan event ini,” tegas Sandy.

Upaya mensinskronkan antara masyarakat , pemerintah dan penyelenggara JFC sebagai sebuah lembaga sosial bukan hal mudah. Namun demikian kimi sudah teruji, tahun 2015 – 2016 kita telah menerapkan event memenuhi JFC sesuati standar internasional. Apakah dalam sector hospitality, security, sector informasi yang diberikan kepada seluruh lapisan masyarakat.

Penyelenggaraan JFC yang sudah berlangsung selama 14 tahun, telah menunjukkan dampak yang luar biasa baik bagi perilaku sosial, dampak ekonomi maupun bagi Kota Jember secara keseluruhan. Menurut riset Tim Bank Rakyat Indonesia (BRI), .setiap event berlangsung perputaran uang mencapai sekitar Rp. 10 milyar. Itu baru dari sisi penonton. Dari sisi bisnis jumlahnya jauh lebih besar, meski pun belum ada penghitungan yang saksama.

Yang jelas selama event berlangsung, hotel-hotel di Jember penuh. Para tamu yang ingin datang dan menginap di Jember, paling tidak harus memesan kamar tiga bulan sebelumnya untuk mendapatkan kamar. Penerbangan harus ditambah, usaha kuliner dan jasa transportasi mengalami lonjakan luar biasa. Ada beberapa hotel yang berskala nasional maupun internasional menanamkan investasi di Jember karena melihat Jember itu sebagai kota karnaval. Jadi hotel tesebut datang dan hadir di Jember itu untuk membranding ikoning Jember. JFC sudah enarik investor.

imageAston Hotel yang merupakan sebuah hotel bertaraf internasional, memiliki hotal bintang 4 di Jember, tiga tahun lalu. Menurut Manajer Aston Hotel Jember, Agus Sunaryo, keputusan manajemen untuk membuka hotel bintang 4 di Jember adalah karena melihat perkembangan Jember yang semakin pesat. Jember bukan lagi kota kecil, melainkan kota tujuan wisata internasional, terutama bila event JFC berlangsung. Di hotel ini terdapat beberapa lukisan dan kostum peserta JFC yang dijadikan penghias lobi hotel. Karena keunkan dan keindahan baju tersebut, tidak jarang tamu-tamu yang datang menyempatkan diri untuk berfoto.​ ​​

imageFasilitas lain yang dibangun menyusul adanya JFC adalah lapangan terbang. Jember merupakan satu dari sedikit kota kecil di Pulau Jawa yang memiliki lapangan terbang. Sebelum ada JFC Jember tidak memiliki lapangan terbang. Tetapi setelah JFC berlangsung, dan tiap tahun selalu dikunjungi oleh wisatawan local maupun asing, pemerintah merasa perlu untuk membangun sebuah lapangan terbang (airport) di Jember. Setiap penyelenggaraan JFC berlangsung, penerbangannya biasanya menambah jadwal penerbangan, karena permintaan tiket pesawat melonjak.

Menurut Penanggungjawab Riset and Development JFC, David Susilo, dari hasil riset dan analisa terjadi perubahan perilaku sosial di masyarkat Jember, sejak ada JFC. Adapun dampak terhadap ekonomi kreatif, sejak ada JFC Jember memiliki memiliki pa indentifikasi handycraf yang tidak memiliki daerah lain. JVC community empowerment. Sebuah wadah yang diinisiasi oleh manajemen JFC untuk merangkul UMKM di Jember, seperti industry kaos, industry batik, pusat oleh-oleh dan lain sebagainya yang dilibatkan untuk menjadi sebuah pemberdayaan komunitas JFC.

Kini Jember Fashion Carnaval telah menjadi salah satu karnaval yang diakui dunia. Jember telah mengubah kota Jember dan masyarakatnya. Berkat JFC perkembangan Jember sangat cepat. Jember menjadi kota yang terkenal di seluruh dunia, berkat JFC.|Herman Wijaya (Foto Dudut Suhendra Putra)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed