by

In-memoriam Glenn Fredly: Musik Tautkan Keragaman Cinta

-Our Corner-68 views

Dipertengahan malam pada awal Maret tahun lalu, tepatnya 2019, tetiba, Saya dikejutkan oleh nada dering bertalutalu dari whatsapp messenger, ketika mata ini mulai terpejam. Sebaris kalimat terbaca; “Mas dah tidur ya?, sorry ganggu”. Sejurus kemudian, muncul lagi kalimat, “Kalau belum?, aku telpon ya!”, pintanya. Saya pun langsung mengiyakan, “Silahkan Bung!”.

Ya! Begitulah almarhum Glenn Fredly, jika ada sesuatu hal yang menarik selalu ingin berbagi cerita. Seperti malam itu. Bung Glenn mengabarkan, ada penyanyi muda Siera Latuperissa bersama Basudara Choir, paduan suara asal Ambon-Maluku yang terdiri dari gabungan para mahasiswa Universitas Darussalam dan Universitas Kristen Indonesia-Maluku, merilis sebuah lagu karya alm. Franky Sahilatua berjudul ‘Pancasila Rumah Kita’.

Menurut Glenn dari ujung telepon, mereka bernyanyi bersama, menyerukan kebaikan dan do’a dengan diksi bagaimana caranya merajut harmoni persaudaraan. Bukan mencari perbedaan, tapi memperbanyak persamaan. Karena hakekatnya manusia adalah basudara, tanpa membedakan asal-usul dan latar belakangnya. Perbedaan itu adalah anugerah, kebersamaan itu amanah. Untuk semua warna menyatu, untuk semua bersambung rasa. Untuk saling membagi, untuk semua insan sama rata sama rasa

“Aku kirim video lagunya ya mas. Mohon dengarkan dan tolong bantu sampaikan, terserah nanti narasinya seperti apa?.” begitu ucapnya, sambil pamit mundur dari bincang-bincang yang singkat malam itu. Setelahnya, saya pun kemudian tercenung menangkap getaran suara batin yang Bung Glenn ingin sampaikan. Intinya sih, menyoal arti pentingg toleransi, kebersamaan, juga harmoni dalam menjaga kehidupan.

Sambil memutar video musik yang dikirim, saya mencoba menelusuri ruang batin Bung Glenn. Sebagai seorang musisi, dia paham betul menjaga harmoni kebersamaan dalam keberagaman, baik ketika ia menciptakan karya lagu, maupun bermusik. Glenn Fredly menganalogikan seperti instrumen musik yang berbeda jenis, bentuk, serta bunyinya, juga latar belakang yang memainkannya pun berbeda. Tapi, ketika kesamaan hati yang berbicara saat memainkannya, harmonisasi nada dan irama terjaga.

Nyong Ambon yang satu ini bukan sekedar musisi. Kecintaannya kepada Indonesia yang penuh ke-bhinekaan, dengan menjungjung tinggi toleransi. Manusia dilahirkan di muka bumi berbeda-beda. Tidak ada yang bisa memilih dilahirkan ditempat mana, berbangsa apa, bersuku apa, juga beragama apa. Termasuk, berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Semuanya, kehendak dan keputusan Tuhan sendiri.

Mata ini mulai terpejam, namun pikiranku masih berselancar menelusuri suara batin yang disebut dengan ruh, iman, cahaya, atau nur. Setiap manusia, dilahirkan di manapun memiliki rasa yang sama. Rasa itulah merupakan karunia Tuhan yang diberikan secara sama, dan seharusnya selalu dipelihara. Begitu seharusnya, dan Glenn tidak sekedar bicara soal musik, tapi tentang kemanusiaan dan keberagaman.

Apalagi, saat politik identitas (keagamaan) menyeruak dijadikan senjata kekuasaan kelompok yang merusak tatanan kerukunan yang terbangun sejak dulu kala. Glenn tidak sekedar bicara saja, tapi dia memberi contoh dengan merilis sebuah album kompilasi religi berjudul ‘Hidayah”, yang melibatkan banyak musisi. Dan, dia bertindak sebagai music producer, vocal director dan eksekutif produser.

Melihat pemikiran Glenn dalam pemajuan kebudayaan, terlebih di dunia musik dan industrinya, menjadi catatan menarik bagi Saya secara pribadi. Suatu ketika di Bulan Februari 2018, Saya sedang berada di Citos, Glenn menghampiri. Dia bercerita panjang lebar tentang gagasanya menyelenggarakan Konferensi Musik Indonesia (KAMI) untuk pertama kalinya di Kota Ambon, dengan melibatkan para pelaku, pemerhati, juga unsur Pemerintah, termasuk rekan media selama 3 hari pada bulan Maret 2018, sambil merayakan Hari Musik Nasional.

Menjadi sebuah catatan sejarah yang sangat penting, setelah sekian puluh tahun lamanya industri musik Indonesia dalam kondisi ‘hidup segan mati tak mau’. Disana para pelaku dan pemerhati musik bersama-sama secara serius akan mengupas tuntas problematiknya guna melahirkan solusi jitu membangun ekosistem musik yang sehat, serta menggali potensi industri musik sebagai kekuatan ekonomi kreatif baru di Indonesia.

Sambil nyeruput kopi pesanan yang dari tadi teronggok dimeja. Glenn melanjutkan ceritanya. Begini paparannya, ”Mas, giat
konferensi musik ini berkat inisiatif kolektlf dari para pelaku yang bergerak di Industri musik. Sebuah upaya bersama membangun ekosistem musik yang berkelanjutan, mencerdaskan, mensejahterakan, serta keberadaannya diakui sebagai sebuah profesi,” tuturnya bersemangat.

Sejurus kemudian, Glenn meminta Saya ikut hadir di acara tersebut. Menurut Glenn, media punya peranan penting di industri musik. Media tidak sekadar mewartakan hal yang berkaitan dengan pelaku beserta karyanya, tapi media sebagai pencatat sejarah perjalanan musik dan industrinya itu sendiri. Peran media mutlak harus masuk dalam ekosistem industri musik, demi peningkatan daya literasi masyarakat.

Tiga hari berada di Kota Ambon. Melihat dari dekat acara KAMI dengan cakupan bahasan antara lain; Memajukan Musik sebagai Kekuatan Ekonomi Indonesia di Masa Depan. Tata Kelola Industri Musik di Era Digital. Musik dalam Pemajuan Kebudayaan. Musik, Diplomasi Budaya & Pariwisata. Kemudian, hasilnya dirumuskan menjadi 12 point penting rekomendasi sebagai bentuk kerjasama strategis antara pelaku kepentingan di industri musik dan pemerintah RI.

Setiap peristiwa, apapun itu, selalu punya banyak sudut pandang. Memandang dari berbagai sisi, termasuk seseorang melihat suatu kondisi dalam hidup bersama dengan yang lainnya. Dan, saya melihat Glenn dari sudut pandang berbeda. Ketika Glenn menggelar konser bertajuk “Tanda Mata”, dengan membawakan lagu-lagu hits musisi populer di Indonesia, banyak ragam pandang muncul melihat itu. Pamor Glenn dianggap mulai meredup, dia tidak berani menggelar konser karyanya sendiri.

Saya juga sempat berfikir seperti itu. Tapi, Saya mencoba melihat segala suatu secara utuh dan menyeluruh. Sebagai seorang musisi, Glenn sudah berada di zona aman dan nyaman. Kesuksesan dan kepopuleran sudah diraihnya dan berada digenggaman tangan. Justru, Saya bersyukur masih ada orang ‘gila’ seperti Glenn Fredly berani dan mengangkat, juga mementaskan musik temannya sebagai bentuk penghargaannya terhadap musisi dengan seabrek karya lagu evergreennya.

Saya melihat karya musik itu seperi artefak, butuh seseorang menjaga dan merawatnya. Dan, Glenn mencoba lewat konser ‘Tanda Mata’ sebagai songbooknya. Ini sebuah dokumen sejarah perjalanan berikut perjuangan seorang seniman. Kita butuh banyak literasi ragam bentuk, seperti lewat konser Tanda Mata’ yang terekam jejak digitalnya untuk katalog musik Indonesia. Jangan sampai dikemudian hari kita semua menyesal, karena generasi mendatang tidak mengenal sejarah musisi serta karya dari negerinya sendiri.

Banyak cerita yang tidak bisa diceritakan panjang kali lebar samadengan luas, karena keterbatasan durasi (ngantuk :red). Seperti, ketika Saya diminta oleh Glenn mengisi ruang kosong artikel seputar musik di aplikasi ‘musikbagus’ yang dibangunnya. Mengulas album berjudul ‘Romansa ke masa depan’, yang menjadi karya terbaru juga terakhirnya. Saya pun harus terdiam sejenak melanjutkan, seperti halnya ketika saya mendapat kabar kepergiannya untuk selama-lamanya.

Selamat jalan sobat; menuju keabadian mu dengan tenang. Raga boleh saja pergi, tapi karya mu kekal abadi. Musik menautkan keberagaman cinta antar kita; kamu-saya-dia-mereka.

Condet, April 2020
Edo Maitreya

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed