by

IEF-Fest 2016, Telah Melahirkan Sang Pemenang!

-Movie-37 views

img_20161119_105657

Jakarta, UrbannewsID.| Indonesian Ethnographic Film Festival (IEF-Fest) yang dihelat selama 3 hari, sejak 16 November lalu di Ruang Apung & Library Plaza, Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, usai sudah digelar pada Jumat (18/11) malam.

Festival yang kali pertama dihelat Pemprov Jabar bersama Balai Perpustakaan Universitas Indonesia ini, mencoba memberi redefinisi mengenai apa etnografi, baik pada film dokumenter, feature dan juga fiksi.

Dari 50-an submission film yang masuk untuk kompetisi, termasuk ada delapan film screening, dokumenter, dan feature. Dewan juri IEF-Fest 2016 yang terdiri dari Seno Gumira Adjidarma, Tommy F Awuy, dan Totot Indrarto, telah memutuskan pemenangnya.

Kategori Best Documentary Ethnographic Film Festival 2016 jatuh kepada film “Lepolorun Untuk Dunia”. Film karya sutradara Milto Seran dan Vita Heni, produksi Eagle Institute Insonesia tahun 2014 ini di produseri Endah W. Sulistiyanti dan Bambang Hamid.

Sedangkan, Best Features Ethnographic Film Festival 2016 diberikan kepada film Lengkara garapan sutradara Bima Gunadi Putra. Film yang mengangkat atmosfir dan soal budaya Bali ini diproduseri Lisatania dan Ageng Dewa.

Totot Indrarto mewakili juri lainnya mengatakan,”Kami bertiga sebagai juri menilai film dari eksplorasi teknik, kreatifitas, serta seberapa kuat ethnography yang ada di dalamnya,” jelas Totot Indrarto.

Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar yang turut hadir di malam puncak Indonesian Ethnographic Film Festival 2016, menyambut baik dan mengucapkan terima kasih buat penyelenggara dan para peserta yang ikut, serta buat para pemenang.

“Ada kesempatan buat kita kedepannya, IEF-Fest sebagai produk kreatif dunia film yang pertama digelar ini terus berkembang. Begitu banyak peluang membuat film etnografi dengan berbagai keragaman yang ada di Indonesia. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan akan lebih luas lagi dengan hadirnya film dari luar berbasis Ethnographic ikut IEF-Fest,” ucap Deddy Mizwar.

Sementara, Direktur Indonesian Ethnographic Film Festival, Franki Raden, mengatakan sangat menyambut baik gagasan Deddy Mizwar ini. Indonesian Ethnographic Film Festival mendatang akan menemukan bentuknya sendiri. “Ya, ini baru awal kita selenggarakan. Pastinya, kita akan memberikan ruang bagi para filmaker Indonesia, maupun dari luar negeri hadir IEF-Fest mendatang,” jelas Franki Raden.

Dalam Indonesian Ethnographic Film Festival tahun ini, sederet kegiatan pun digelar. Selain kompetisi film, ada pula workshop dan seminar, termasuk screening film, antara lain, Global Metal (Sam Dunn), Street Punk! Banda Aceh (Maria Bakkalapulo), Retrospective (Garin Nugroho), Hidup untuk Mati (Tino Saroengallo), dan Cahaya dari Timur (Angga Dwimas Sasongko).|Edo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed