by

HFN 2017: Mendikbud Tekankan Meliterasi Perfilman Pada Usia Dini!

-Movie-163 views

image

Jakarta, UrbannewsID.| Hari film nasional yang kerap kali digelar setiap tanggal 30 Maret oleh masyarakat film, tidak bisa dilepaskan dari sosok Usmar Ismail seorang penjuang, seniman, wartawan dan sekaligus sutradara. Pengambilan gambar pertama karya film Darah & Doa atau Long March of Siliwangi yang disutradarainya tepat 67 tahun lalu yakni pada tanggal 30 Maret 1950, menjadi tonggak kebangkitan film nasional yang dinilai sebagai karya lokal pertama bercirikan Indonesia.

Maka, tidak heran lahirlah Keppres Nomor 25 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa tanggal 30 Maret 1950 merupakan hari bersejarah bagi Perfilm Indonesia karena pada tanggal tersebut pertama kalinya film cerita dibuat oleh orang dan perusahaan Indonesia. Dalam upaya meningkatkan kepercayaan diri, motivasi para insan film Indonesia serta untuk meningkatkan prestasi, dipandang perlu menetapkan tanggal 30 Maret sebagai Film Nasional.

Berkaitan dengan peringatannya yang jatuh setiap 30 Maret mendatang. Tahun ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Perfilman Indonesia, Badan Ekonomi Kreatif, Perum Perusahaan Film Negara, serta beberapa mitra pendukung akan mengadakan HFN sepanjang Maret 2017. Lasya F. Susatyo selaku Ketua Panitua Pelaksana HFN mengatakan, beberapa acara telah disiapkan mulai dari pemutaran film di komunitas dan bioskop keliling, workshop pengembangan perfilman, diskusi film dan sastra, serta Film Project Expo.

Puncak acara HFN 2017 akan dimeriahkan dengan Film & Art Celebration pada 30 Maret hingga 1 April 2017. Melalui tema “Merayakan Keberagaman Indonesia” yang diusung, Ketua Badan Perfilman Indonesia Chand Parwez mengungkapkan bahwa HFN merupakan peringatan yang cukup bersejarah. “Momen ini cukup strategis untuk membangkitkan kembali film-film Indonesia. Membawa keragaman itu adalah sesuatu yang menarik,” ujarnya dalam jumpa pers HFN 2017 di Komplek Kemendikbud, Jakarta Selatan, Senin (6/3).

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang kini menjadi induk masyarakat film, memutar otak untuk terus meningkatkan dan mengembangkan perfilman Indonesia. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Muhadjir Effendy, MAP., yang turut hadir dalam jumpa pers mengatakan, satu sisi kita konsentrasi pada peningkatan kualitas produk perfilman, tapi disisi lain kita lengah mendorong apreasiasi masyarakat penontonnya. Salah satu cara yang dipilih adalah dengan meliterasi perfilman kepada masyarakat, khususnya anak-anak yang masih duduk di bangku pendidikan.

Apa yang dikemukakan Mendikbud ini memang sangat menarik, masyarakat film selalu terjebak pada pola menjaga kualitas pelaku dan produknya, tapi hanya sedikit yang bicara penikmat atau penontonnya. Ia menambahkan ada tiga hal yang harus lebih ditekankan lagi, yakni etika, estetika, dan kinestetika. Ketiga hal ini harus disandingkan dengan baca, tulis, dan hitung. Jika diterapkan dengan baik, ketiga hal tersebut akan membuat masyarakat lebih mencintai perfilman nasional.

“Meliterasi anak-anak dengan tiga hal tersebut agar kesenian dan rasa keindahan tumbuh pada anak-anak dan salah satu instrumen yang tepat adalah dengan film. Untuk itu, saya berharap masyarakat perfilman harus hadir di sekolah-sekolah untuk melakukan literasi lewat workshop atau pendidikan untuk memberikan pemahaman dan memelekan dunia perfilman nasional. Hal ini sangat penting, karena mereka adalah generasi yang akan memberikan kontribusi perkembangan industri film itu sendiri,” ujar Muhadjir.

Meskipun menyadari bahwa ini merupakan investasi jangka panjang, Muhadjir yakin bahwa buah yang akan dipetik kelak akan berdampak besar pada industri perfilman nasional. Setidaknya, anak-anak yang telah dibentuk karakternya sejak dini akan menjadi penonton yang lebih menghargai karya-karya seni, terlebih film. Seyogyanya, memang demikian, seluruh intrumen yang bergerak dalam dunia perfilman baik produser, sineas maupun para pekerja seni (artis) ikut terlibat merumuskan, membentuk, dan aktif didalamnya. Buat apa film berkualitas jika minim penonton.|Edo (Foto Dudut SP)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed