by

Grassrock Is Back; Bukan Sekedar Amanah, Tapi Perjuangan!

-Music-14 views

image

Jakarta, UrbannewsID.| Seorang filsuf bernama Arthur Schopenhauer [1788-1860] pernah mengatakan musik adalah salah satu jalan untuk manusia keluar dari dunia yang penuh dengan penderitaan, sebab manusia hanya memiliki dua jalan yaitu estetis (seni) dan etis (perbuatan baik). Bahkan seorang filsuf atheis seperti Friedrich Nietzsche [1844-1900] berujar, hanya musik yang memberikan arti dalam hidup manusia. Musik dapat menjadi tempat pelarian sementara manusia dari kenyataan hidup.

Kita –saya dan Anda—tentu meyakini, bahwa manusia akan melewati banyak riak dan gelombang yang mungkin saja, tidak bisa kita lewati tanpa perjuangan keras. Nah, usai melewati “masa-masa sulit” itu perlu satu alat yang membawa kita pada rasa nyaman dan bisa mempertahankan keseimbangan. Musik adalah pilihannya. Tak heran, ada satu pernyataan yang mengatakan; musik adalah senjata terhebat yang pernah diciptakan manusia.

Maka tidak salah! Usia panjang sebuah grup progresif rock yang lahir di tahun 1984 hingga kini, menjadi kebanggaan tersendiri. Selama 33 tahun, semangat juang mereka melanglang buana mengibarkan bendera “Grassrock” menembus zaman. Ketika jiwa tak lagi merasa bersama dan tepekur dalam kekosongan. Mereka mainkan nada lewat penggalan kata yang menyatakan ‘aku tetap ada berdiri tegak bersama mu wahai kesepian’.

Grassrock is Back! Ya’ itu sebuah kata yang tepat untuk mengatakan dan menyambut kehadiran si anak rembulan yang hilang selama 15 tahun. Kini, mereka hadir kembali mengisi lembaran baru katalog musik tanah air yang pernah ditorehkannya. Grassrock sedang tancap gas untuk melahirkan bayi album barunya di tahun tahun ini, namun dengan telebih dahulu mengenalkan single berjudul “Grassrock is Back! tepat di hari ulang tahunnya ke-33 tahun.

image

Acara seremonial yang digelar, Rabu (24/5) malam di Avenue of The Stars-Kemang Village, Jakarta Selatan. Tidak saja, disambut antusias para penggemar, tetamu undangan dan pengunjung mall, namun sederet rekan musisi bersama grup band nya masing-masing seperti Montecristo, The Kadri Jimmo, NakedSoul Project, dan Rock’Ko, turut ambil bagian dalam konser satu panggung di perayaan #GrassrockisBack 33rd Anniversary.

Grassrock yang kini beranggotakan Hans Sinjal (vokal), Edi Kemput (gitar), Zondy Kaunang (bass), Denny Irenk (keyboard), dan Rere Reza (drum), turut larut dalam kegembiraan menuju keyakinan baru bahwa “keberhasilan bermusik” bukanlah sesuatu yang sekadar ditemukan, melainkan sesuatu yang dibentuk, di kondisikan. Layaknya sebuah lakon, masing-masing memiliki peran sesuai kemampuan untuk membangun cerita yang menarik.

“Terus terang, ada rasa keharuan menyaksikan suasana malam ini. Rere dengan passion nya, bersama Grass Enterprise mampu membangun tata panggung dalam suasana kebersamaan yang luar biasa. Semoga momen ini, menjadi titik awal kebangkitan kami di panggung musik tanah air dalam titian perjalanan 33 tahun Grassrock kedepannya. Pastinya, “Grassrock is Back” bukan sekedar lagu tapi suara hati yang mewartakan kepada Grassnation, kami tetap ada,” pungkas Edi Kemput.

Edi menambahkan, semua personil memiliki peran dan kontribusi yang sama dalam proses penggarapan lagu-lagu yang akan bertengger di album anyar nya nanti. Saya bertugas mengurusi musiknya, mulai dari pembuatan materi lagu baru sampai yang lama, termasuk juga mengatur jadwal latihan, recording sampai mixing. Hans Sinjal sebagai vokalis, bertugas menginterprestasikan cerita dibalik lagu sesuai karakter dirinya, dan tentunya warna musik Grassrock.

Begitu juga, Denny Irenk yang memiliki pengalaman segudang, memberikan harmoni berbeda dalam setiap nada lagu lewat kepiawaian jari jemarinya menari di atas tuts keyboardnya. Sementara, Zondy Kaunang yang baru bergabung dengan Grassrock memberi energi baru lewat cabikan senar bassnya, untuk memberikan kekuatan pada irama musik yang dimainkan, sekaligus mengembangi permainan sang drummer kawakan, Rere Reza.

Sementara Rere Reza, sama halnya Edi Kemput, sebagai personil yang lebih dulu berada di Grassrock. Bukan saja menjadi penjaga tempo dalam setiap karya lagu yang dimainkan, tapi juga menjadi motivator sekaligus inspirator membangun warna dan wajah baru Grassrock. “Sesuai single yang kami perkenalkan malam ini, yaitu “Grassrock is Back”. Kami mencoba memaknai arti dari sebuah nilai-nilai perjuangan, kesetia-kawanan, persahabatan, dan juga amanah bagi seorang musisi untuk terus berkarya,” jelas Rere.

Menurut Rere, Grassrock akan terus berevolusi mencari bentuk di tengah industri musik asyik nggak asyik saat ini. Tidak sekedar mengandalkan album fisik yang semakin sulit penjualan nya, tapi ide segar terbarukan dari teman-teman Grassrock yang muncul dan berbeda, ujar Rere. Secara tersamar, Rere mencoba pola pendekatan lewat karya lagu Grassrock yang memiliki kedekatan secara emosional dengan pendengarnya menjadi kekuatan. Tentunya, semua dikemas kekinian sesuai jamannya.

Grassrock terus berupaya menggenjot penyelesaian album barunya berisikan 10 nomor lagu, terdiri dari 7 lagu baru dan 3 lagu lama. Namun, Grassrock harus mulai berfikir bahwa musik saat ini sudah tidak lagi berjarak dan dibatasi oleh waktu. Saat ini, menikmati musik cukup dengan satu jari kapan saja, dimana saja, dan dari mana asalnya musik itu berada. Era digitalisasi informasi memungkinkan itu, tapi upaya lainnya perlu dilakukan pula lewat bahasa universal agar mudah dicerna lagunya.

Grassrock is Back! bukan sekedar menyatakan pertanda bangkit kembali. Karena berkarya itu seharusnya sudah seperti bernapas, selalu harus ada. Tapi, Grassrock harus pula bermetamorfosis menjadi sebuah “brand”, bukan sekedar band. Grassrock harus mampu mengemasnya menjadi sebuah produk musik yang bernilai tinggi dengan membawa rasa dan citra baru kedepannya. Selamat ulang tahun Grassrock, Well Comeback!|Edo (Foto Mas Abidin)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed