by

Film Untuk Angeline, Bicara Seputar Ibu Kandung dan Orang Tua Angkat!

-Movie-67 views

imageJakarta, UrbannewsID. | Ketika menghadiri undangan preview film “Untuk Angeline” produksi Citra Visual Mandiri disalah satu bioskop yang berada di kawasan Senayan Jakarta, Kamis (21/7) sore. Sontak, saya mencoba berselancar menyusuri ingatan tentang kisah tragis kematian bocah perempuan bernama “Angeline” yang menjadi perhatian dan duka mendalam bagi banyak orang dalam kondisinya sangat mengenaskan dan banyak tanda-tanda tidak wajar.

Meski telah berlalu satu tahun lebih, dan sidang pelaku dan juga mereka yang ikut terlibat atas kematian Angeline di Pengadilan Negeri Tinggi Bali sampai saat ini masih terus berlangsung. Kisah kematian bocah mungil Angeline masih belum hilang dari ingatan. Kekejian para pelaku, dimana anak yang sedianya adalah tumpuan dan harapan orang tua, wajib hukumnya dilindungi maupun diberikan kasih sayang.

Tindak kekerasan terhadap anak hingga meregang nyawa, seperti kasus Angline ini memunculkan keprihatinan. Beragam cara dilakukan untuk mengingatkan masyarakat untuk lebih peduli dan mencegah terulangnya kasus kekerasan pada anak. Ada ingin membangun Monumen Angeline, dan bahkan sampai kisahnya kemudian dijadikan kisah film layar lebar.

imageSeperti yang dilakukan rumah produksi Citra Visual Mandiri memfilmkan kisah Angeline dengan sudut pandang yang berbeda. Film berjudul “Untuk Angeline” yang skenario dibuat oleh Lele Laila, dan Jito Banyu didampuk sebagai sutradara. Setelah menyaksikan, angle film ini berangkat dari ibu kandung Angeline bernama Samidah (nama di film), atas dasar fakta persidangan.

Bagaimana dikisahkan seorang perempuan muda asal Banyuwangi yang sedang mengandung ini, memutuskan pindah ke Bali ikut dengan suami yang bekerja sebagai kuli. Kemudian, dia juga harus menerima kenyataan pahit secara ekonomi saat melahirkan, dan bertemu John (nama di film) warga negara asing yang membantu dan mengadopsi Angeline. Sampai akhirnya, setelah lama tidak berjumpa mendapat khabar, anaknya meregang nyawa.

Nampak Jito bermain diwilayah aman, persidangan pelaku penganiayaan dan pembunuh Angeline hanya sebagai pengantar cerita. Mereka sengaja tidak ditampilkan, tapi hanya fokus kepada ibunya dan juga kisah Angeline saat bersama bapak danibu angkatnya yang menjadi sumber malapetaka. Secara visual, penggambaran kekerasan terhadap Angeline oleh ibu angkatnya tidak ungkap secara vulgar.

Seperti ucapan psikolog sekaligus pemerhati anak, Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto yang turut pula bermain di film ini, mengingatkan agar pembuatan film yang mengangkat kisah hidup Angeline sebaiknya mengampanyekan anti kekerasan kepada anak daripada sekadar unsur komersialisasi yang ditonjolkan. Menurut Kak Seto, film harus menekankan bahwa tindakan kekerasan kepada anak harus dihentikan.

Film “Untuk Angeline” yang siap tayang dibioskop 21 Juli 2016, sekaligus juga menyambut Hari Anak ini. Selain Kinaryosih yang berperan sebagai Samidah, ibunya Angeline, dan Naomi Ivo sebagai Angeline, film ini juga diperkuat deretan pemain seperti Teuku Rifnu Wikana, Roweina Umboh, Hans De Kraker, Dewi Hughes, Ratna Riantiarno, Emma Waroka, Paramitha Rusady dan penampilan spesial Kak Seto Mulyadi.|Edo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed