by

Film The Last Barongsai, Potret Kehidupan Keluarga Cina Benteng!

-Movie-26 views

img_20161221_214515

Jakarta, UrbannewsID.| Menurut kitab sejarah Sunda yang berjudul Tina Layang Parahyang (Catatan dari Parahyangan), keberadaan komunitas Tionghoa di Tangerang dan Batavia sudah ada setidak-tidaknya sejak 1407 Masehi. Kitab itu menceritakan tentang mendaratnya rombongan pertama dari dataran Tiongkok yang dipimpin Tjen Tjie Lung alias Halung di muara Sungai Cisadane yang sekarang berubah nama menjadi Teluk Naga.

Maka, tidak heran keberadaan etnis Cina ratusan tahun yang lalu telah melahirkan akulturasi dengan masyarakat pribumi, termasuk budaya, pengetahuan, pola pikir dan kepercayaan (agama) yang saling mempengaruhi dan menjadi bagian yang penting dari perjalanan bangsa Indonesia sampai saat ini. Bahkan dari sisi teknologi bisa dilihat dari bangunan-bangunan, termasuk mesjid dan bangunan-bangunan bersejarah lain), atau makanan dan juga bahasa.

Keturunan Cina Benteng tumbuh dan berkembang dari generasi ke generasi. Akulturasi budaya etnis Tionghoa dan budaya lokal telah menyatukan dan menjadi bagian kekayaan nilai seni bangsa Indonesia sendiri. Namun seiring perubahan zaman budaya akulturasi ini kurang diminati pemuda masa kini. Sebut saja, kesenian Gambang Kromong, Cokek atau Barongsai. Menurunnya animo anak muda sekarang mempelajari dan mempertahankan tradisinya, menggugah Rano Karno membuat film layar lebar berjudul “The Last Barongsai”.

img_20161221_214642

Film yang memotret kehidupan masyarakat Cina Benteng yang hidup di Tangerang ini, diharapkan menjadi titik balik dari sebuah drama tentang satu dari ratusan budaya yang tumbuh dan berkembang di Indonesia. Menurut Rano Karno selaku Executive Producer The Last Barongsai,”Selain mengakar pada budaya dan mempertahankan nilai seni, film ini juga mengangkat nilai toleransi yang terkandung didalamnya. Kami berharap film nasional untuk terus berbangga menghadirkan dan mempromosikan budaya tanah air yang begitu luar biasa,” jelas Rano, saat dijumpai di Kopi Kalyan bilangan Kebayoran Baru, Rabu (21/12).

Film yang di sutradarai Ario Rubbik dan diproduksi Karno’s Film ini, mengalami beberapa kendala cukup lama untuk diproduksi. Bahkan, ide cerita ini pun sempat dijadikan sebuah novel sekitar tahun 2012, dan baru pada tahun 2015 skenario filmnya dibuat ulang oleh Titien Wattimena yang akhirnya diproduksi pada tahun 2016 ini. “Ide cerita film ini mengendap cukup lama. Kemudian, saya dan Titien melakukan riset kurang lebih sekitar 5 bulanan sebagai bahan penulisan skenario, sekaligus mempertajam apa yang akan diangkat,” ujar Ario Rubbik.

Film The Last Barongsai yang bercerita tentang sebuah keluarga yang berusaha mempertahankan tradisi dalam keluarga mereka yaitu tradisi Barongsai dengan segala permasalahannya. Menghadirkan sederet pemain, yakni Tio Pakusadewo yang berperan sebagai Handoyo a.k.a Kho Huan, Dion Wiyoko sebagai Gunadi a.k.a Aguan, Aziz Gagap memerankan atas namanya sendiri Aziz, H. Rano Karno sebagai tokoh Safrudin lelaki Betawi, Vinezza Inez sebagai Sari, serta Furry Citra memerankan tokoh Susan. Rencananya film ini tayang serentak di bioskop tanah air pada 26 Januari 2017.

Rubby Karno selaku produser film The Last Barongsai mengungkapkan, akan melakukan road show dan meet and greet bersama para pemain dii beberapa bioskop ditanah air. “Untuk pemutaran perdana kita mencoba melakukan di bioskop wilayah Tangerang, selain isi ceritanya memang mengakat Cina Benteng yang hidup di Tangerang. Dan, secara kebetulan wilayah ini masuk Provinsi Banten dimana Rano Karno menjabat sebagai Gubernur,” papar Rubby Karno yang juga kakak kandung Rano Karno.|Edo (Foto Dudut SP)

Berikut Sinopsis The Last Barongsai

Koh Huan terpaku di depan pintu tua yang terbuka lebar, nampak di wajahnya keresahan yang dalam walaupun tak terkatakan. Tangannya memegang surat undangan kejuaraan yang terus datang dari tahun ke tahun. Namun tidak sedikitpun Kho Huan tertarik untuk membacanya.

Aguan terpaku membaca surat di tangannya. Surat pemberitahuan bahwa permohonannya untuk mendapatkan bea siswa di Nanyang University Singapore diluluskan. Aguan ingin teriak rasanya, tapi kalimat yang menjelaskan tentang tanggal daftar ulang, menahan teriakannya di kerongkongan.

Kho Huan langsung berpikir keras supaya anak lelaki satu-satunya itu bisa bersekolah ke Singapore dan menjemput mimpinya. Ia segera melupakan surat undangan kejuaraan barongsai tadi yang kini tergeletak tak berdaya di dalam laci.

Wajah Aguan tampak datar, yang terpikir, apa yang akan terjadi pada Sanggar BARONGSAI yang dipimpin Kho Huan ayahnya, jika ia pergi. Apakah yang akan terjadi pada sanggar tersebut? Dan bagaimana dengan cita-cita Aguan?

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed