by

Film The Last Barongsai, Potret Akulturasi Budaya Cina Benteng

-Movie-159 views

image

Jakarta, UrbannewsID.| Keturunan Cina Benteng yang berada di wilayah Tengerang, Banten, tumbuh dan berkembang dari generasi ke generasi. Keberadaan etnis Cina ratusan tahun yang lalu telah melahirkan akulturasi dengan masyarakat pribumi, termasuk budaya, pengetahuan, pola pikir dan kepercayaan (agama) yang saling mempengaruhi dan menjadi bagian yang penting dari perjalanan bangsa Indonesia sampai saat ini.

Namun seiring perubahan zaman, budaya akulturasi ini kurang diminati pemuda masa kini untuk mempelajari, menjaga atau ikut melestarikannya. Sebut saja, kesenian Gambang Kromong, Cokek atau Barongsai. Menurunnya animo ini, akhirnya menggugah Rano Karno membuat film layar lebar berjudul “The Last Barongsai”.

IMG_20170121_125849

Film yang memotret kehidupan masyarakat Cina Benteng yang hidup di Tangerang ini, diharapkan menjadi titik balik dari sebuah drama tentang satu dari ratusan budaya yang tumbuh dan berkembang di Indonesia. ”Selain mengakar pada budaya dan mempertahankan nilai seni, film ini juga mengangkat nilai toleransi yang terkandung didalamnya,” ujar Rano Karno selaku Executive Producer The Last Barongsai.

Film produksi Karno’s Film yang skenarionya ditulis oleh Titien Wattimena, dan di sutradarai Ario Rubbik ini, bercerita tentang sebuah keluarga yang berusaha untuk mempertahankan tradisi leluhur dalam keluarga mereka ditengah modernitas yang berkembang pesat yang mempengaruhi pola pikir dan pergeseran nilai, yaitu tradisi Barongsai dengan segala permasalahannya.

IMG_20170121_125732

Menghadirkan sederet pemain, yakni Tio Pakusadewo yang berperan sebagai Handoyo a.k.a Kho Huan, Dion Wiyoko sebagai Gunadi a.k.a Aguan, Aziz Gagap memerankan atas namanya sendiri Aziz, H. Rano Karno sebagai tokoh Safrudin lelaki Betawi, Vinezza Inez sebagai Sari, serta Furry Citra memerankan tokoh Susan. Ario Rubbik ingin mengingatkan, sebagai bangsa kita harus faham bahwa kultur budaya yang tumbuh di Indonesia juga dipengaruhi budaya luar, baik china, arab, india atau barat ratusan tahun.

Film yang akan tayang serentak di bioskop tanah air pada 26 Januari 2017 ini. Rubby Karno selaku produser film The Last Barongsai mengungkapkan, akan melakukan road show dan meet and greet bersama para pemain dii beberapa bioskop ditanah air. “Untuk pemutaran perdana kita mencoba melakukan di bioskop wilayah Tangerang, selain isi ceritanya memang mengangkat Cina Benteng yang hidup di Tangerang,” papar Rubby Karno yang juga kakak kandung Rano Karno.|Edo (Foto Istimewa)

Berikut Sinopsis The Last Barongsai

Koh Huan terpaku di depan pintu tua yang terbuka lebar, nampak di wajahnya keresahan yang dalam walaupun tak terkatakan. Tangannya memegang surat undangan kejuaraan yang terus datang dari tahun ke tahun. Namun tidak sedikitpun Kho Huan tertarik untuk membacanya.

Aguan terpaku membaca surat di tangannya. Surat pemberitahuan bahwa permohonannya untuk mendapatkan bea siswa di Nanyang University Singapore diluluskan. Aguan ingin teriak rasanya, tapi kalimat yang menjelaskan tentang tanggal daftar ulang, menahan teriakannya di kerongkongan.

Kho Huan langsung berpikir keras supaya anak lelaki satu-satunya itu bisa bersekolah ke Singapore dan menjemput mimpinya. Ia segera melupakan surat undangan kejuaraan barongsai tadi yang kini tergeletak tak berdaya di dalam laci.

Wajah Aguan tampak datar, yang terpikir, apa yang akan terjadi pada Sanggar BARONGSAI yang dipimpin Kho Huan ayahnya, jika ia pergi. Apakah yang akan terjadi pada sanggar tersebut? Dan bagaimana dengan cita-cita Aguan?

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed