by

Film ‘Surau & Silek’, Mengangkat Pendidikan Luhur Budaya Minang!

-Movie-23 views

image

Jakarta, UrbannewsID.| Menengok ke puluhan tahun lalu, banyak para tokoh asal Minangkabau telah menorehkan sejarah yang tak kecil bagi Indonesia. Sebut saja Muhammad Hatta, Agus Salim, Tan Malaka, Hamka, Soetan Sjahrirh M Natsir, Mohammad Yamin, Usmar lsmail, Chairil Anwar dan banyak Iagi tokoh lainnya. Mereka tersebut besar dalam didikan budaya Minangkabau, terutama bagi yang telah akhil baliq, bahwa surau adalah tempat terbentuknya pola pikir. Karena, di surau mereka bisa belajar mengaji, berdiskusi tentang segala hal serta belajar silek (silat).

image

Sayangnya budaya surau tersebut pun mulai terkikis oleh waktu, karena dianggap tak lagi relevan dengan kehidupan yang kian modern. Jika satu budaya positif memudar, siapakah yang seharusnya dipersalahkan. Keprihatinan inilah yang dirasakan oleh Muhammad Arif (Arif Malinmudo) mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Penciptaan Film ISI Surakarta, asli kelahiran Tanah Minangkabau. Arif mencoba mengingatkan tentang budaya yang telah lama ditinggalkan tersebut dari sudut pandang anak-anak SD berusia 11 tahun serta seorang pensiunan dosen berumur 62 tahun, lewat medium film bertajuk “Surau & Silek”.

FIlm produksi Mahakarya Picture yang direncanakan akan tayang pada tanggal 27 april ini, mengangkat tema kehidupan dan budaya Minangkabau dengan latar di beberapa tempat di Bukittingi dan Kabupaten Agam, serta wilayah yogyakarta. Film fiksi berdurasi 90 menit menggunakan bahasa daerah Minangkabau, bercerita tentang Rustam, seorang pemuda yang ingin mencari jati diriya. Untuk itu ia memutuskan untuk pergi merantau layaknya bujang seusianya. Rustam terus berkelana untuk menemukan jawaban tentang dirinya, kemudian kehidupannya berhenti sejenak untuk menjadi guru silat 3 sekawan anak Sekolah Dasar yakni Adil, Kurip dan Dayat.

image

Dalam film bertajuk surau dan Silek ini, kemudian Rustam diceritakan merantau. Ketiga sekawanan dengan semangat yang tinggi mempersiapkan diri menuju pertandingan berikutnya yang akan diadakan 6 bulan lagi, dibuat bingung karena tidak ada yang melatih lagi. Berkat usaha Rani teman sekolahnya, ketiga sahabatnya ini dipertemukan dengan sahabat kakeknya bernama Johar, pensiunan dosen berusia 62 tahun. Kehadiran Johar pulang kampung untuk menikmati masa tuanya bersama istri, walau awalnya kurang tertarik melatih silek, akhirnya bersedia. Mereka berlatih memulai dari falsafah silat di Minangkabau yaitu “ Lahir silek mencari kawan, Bathin silek mencari Tuhan”.

Beda usia yang cukup jauh kemudian membuat kontradiksi dalam film ini. Bagaimana silat dalam persepsi bocah yang baru berumur 11 tahun. Selain mengajarkan tentang silat, Johar memiliki tanggung jawab untuk melestarikan Budaya Minang yang juga dituangkan ke dalam sebuah buku yang digarapnya. Karena Silek tak hanya sebatas beladiri, tapi juga sarat akan nilai filosofi adat dan kebudayaan Minang. Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Karena itulah 3 hal yang kemudian sangat ditekankan Rustam kepada anak didik persilatannya, Shalat, salawat, silek.

Film ini sendiri dibintangi beberapa artis nasional seperti Gilang Dirga  yang berperan menjadi Rustam sekaligus menjadi salah satu produsernya. Lalu ada Dewi Irawan,  Ahmad Tarmimi Siregar, Komo Ricky, Pras Tegus, dan banyak bintang lainnya.|Edo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed