by

Film Ngenest, Cerita Kegamangan Seorang Ernest

-Movie-66 views

FILM NGENEST

Sebuah film bergenre komedi berjudul “Ngenest” dengan tagline Kadang Hidup Perlu Ditertawakan” yang diangkat dari trilogi buku laris karya komika Ernest Prakasa ini, memaparkan tentang fenomena sosial yang kerap terjadi dan dialami banyak orang dari etnis Tionghoa di Tanah Air.

Tidak hanya karya bukunya diangkat kelayar lebar, tapi Ernest Prakasa sang penulis pun dipercaya menggarap skenario sekaligus menjadi sutradara-nya, dan bahkan sebagai pemain utama di film produksi Starvision yang akan tayang di Bioskop Indonesia 30 Desember 2015 mendatang.

Film Ngenest atau Ngetawain Hidup Ala Ernest Prakasa ini, menceritakan tentang kisah Ernest bersama sahabatnya Patrick yang sejak kecil selalu di bully karena merupakan keturunan China. Penampilan fisiknya yang terlahir dengan mata sipit dan kulit putih menjadi kerugian baginya.

Menjadi korban bully, membuatnya bertekad bahwa keturunannya kelak tidak boleh mengalami nasib yang sama. Untuk itu, ia berikrar untuk menikahi perempuan pribumi, dengan harapan agar anaknya kelak tidak mengalami kemalangan yang ia alami.

“Film ini bukan tentang saya, ini adalah film tentang bagaimana cara kita menertawakan kepahitan dalam hidup kita, karena komedi adalah salah satu cara untuk mengobati luka.,” jelas Ernest, saat dijumpai setelah movie screening di kawasan Epicentrum Kuningan, Jakarta, Selasa (22/12).

Walau diklaim bukan kisahnya, setelah menyaksikan film-nya dapat disimpulkan bahwa Ernest sedang menceritakan kegamangan, kegelisahan atas peristiwa yang dialaminya. Ernesh seperti berada pada simpang pilihan, serta realitas yang terlanjur lahir dari etnis Tionghoa di kehidupan sosial modern maupun tradisinya.

Film Ngenest yang melibat Morgan Oey, Lala Karmela, Ferry Salim, Olga Lidya, Amel Carla, Budi Dalton, Ade Sechan serta sejumlah komika ternama sebagai pemain. Inti cerita dari Ngenest adalah bagaimana pertanyaan akan identitas yang mencerminkan kebebasan pribadinya bisa berdamai dengan masa lalu yang berat dan dapat menertawakan berbagai persoalan yang hadapi.

Sebagai sebuah tontonan, film Ngenest cukup menghibur larena banyak bermain kata-kata pengundang tawa khas stand-up comedy. Tapi, jika film ini sebagai sebuah pertanyaan atau gugatan, isu ini sudah tidak populer lagi. Etnis Tionghoa tidak pada tempatnya lagi mengeluhkan selalu tersandera didiskriminasi, karena sejarah sudah mewartakan mereka menjadi bagian warga bangsa Indonesia.

Tidak ada lagi dikotomi pribumi dan bukan pribumi, tidak ada lagi sebutan kata si Cina, si Arab, si India, si Bule, si Jawa, si Batak, si Ambun dan si lainnya, karena semua hari ini sama. Panggilan Koh atau Ci, sama dengan panggilan Mas-Mba, Uni-Uda, Kang-Ceu, Abang-Mpok dan sebagainya. Dan bahkan, ada beberapa kosa-kata yang berasal dari bahasa Cina termasuk Arab menjadi serapan bahasa Indonesia.

Ketika sebuah karya film dihadirkan ke hadapan para penonton, boleh jadi yang mula pertama diperhatikan adalah sejauh manakah sebuah kalimat pembuka dapat menggoda khalayak untuk terus menyimak adegan demi adegan dari kisah film tersebut. Hal ini terus berlanjut, hingga kemudian penonton sampai pada bagian terakhir, di mana segala penyelesaian atas persoalan yang menjadi inti cerita dituntaskan atau bahkan dipertanyakan kembali. |Edo (Foto Istimewa)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed