by

Film My Generation, Sebuah Potret Remaja di Era Millenial

-Movie-47 views

image

Jakarta, UrbannewsID.| Anak muda millenial kini hidup di sebuah era penuh dengan krisis. Krisis alam juga kemanusiaan yang kini sedang melanda mayoritas penghuni bumi mencapai sebuah titik yang sangat mengkhawatirkan. Informasi mengenai berbagai krisis global dan nasional-pun membanjiri gudang kognisi dari seorang anak muda setiap hari. Overload informasi ini berimplikasi secara signifikan terhadap kondisi psikis dan perilaku anak muda.

Generasi millenial merupakan kelanjutan dari Generasi X, sering kali didefinisikan tidak berdasarkan tanggal lahir namun berdasarkan kecenderungan perilaku dan psikografis mereka. Dimana, generasi yang unik ini memiliki fitrah kolektif yang secara otomatis akan mendorong anak muda untuk condong kepada kelompok setiap kali ia menghadapi sebuah ancaman atau ketidaknyamanan. Krisis global, modernitas, serta gaya hidup kompetitif-individualistik merupakan sumber anxiety yang dapat mengemuka dalam diri seorang anak muda.

Untuk mengatasi perasaan cemas dan ketidaknyamanan diri tersebut, seorang anak muda akan melakukan usaha coping atau usaha mental untuk mengintervensi diri secara positif. Jadi jangan heran jika mereka memiliki pandangan yang kritis, acuh dan sedikit memberontak. Maka, sebaiknya generasi X atau orang tua harus masuk dalam kehidupan mereka yang sedang mencari bentuk agar lebih faham sifat, perilaku serta keinginan mereka. Bukan malah menjauh, apalagi tidak perduli.

imagePotret generasi Millenial dengan segala problematika kehidupan inilah, coba diangkat kelayar lebar oleh Upi, seorang sutradara wanita sekaligus penulis skenario, berjudul “My Generation”. Gagasan Upi untuk kembali mengangkat film bergenre drama remaja yang satu ini, setelah sukses sebelumnya dengan karyanya “30 Hari Mencari Cinta” dan Realita, Cinta dan Rock ‘n Roll, bak gayung bersambut, langsung ditangkap rumah produksi IFI Sinema.

Adi Sumardjono, Produser IFI Sinema mengatakan, film “My Generation” dari cerita sangat menarik. Bukan sekedar drama biasa seperti lazim yang kita lihat, tapi ada sajian baru potret genarasi masa kini yang tumbuh dan berkembang di era milenial saat ini. “Bukan cuma itu saja, film yang siap kita produksi satu bulan kedepan ini, tokoh pemeran utamanya talent-talent baru yang masih fresh di dunia film,” ujar Adi, saat memperkenalkan film barunya beserta pemainnya di Jakarta, Rabu (18/1) siang.

imageSementara, Upi sang sutradara sekaligus penulis cerita menjelaskan, saat dia menyodorkan cerita film “My Generation” untuk diproduksi, meminta kepada Adi sebagai produser untuk menggunakan pemain-pemain muda yang belum dikenal, sebagai bagian dari upaya re-genarasi artis film di Indonesia. “Ini memang tantangan bagi saya dan Adi, tapi kalau tidak dimulai memperkenalkan talent-talent muda yang kita anggap berbakat untuk nantinya menjadi the next generation dari industri film Tanah Air, kapan lagi,” kilah Upi.

Film My Generation bercerita tentang persahabatan 4 anak SMU, Zeke, Konji, Suki dan Orly. Di awali ketika liburan sekolah yang terkesan tidak istimewa, ternyata membawa mereka pada kejadian-kejadian dan petualangan yang memberi pelajaran sangat berarti dalam kehidupan. Dimana mereka belajar untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah, dan juga belajar untuk mencari jawaban-jawaban dari pertanyaan ketidak mengertian mereka seputar kehidupan yang mereka jalani.

Kisah seputar kehidupan masa remaja yang penuh warna dan menantang bak rollercoaster yang sangat akrab dan mewakili dengan kehidupan remaja saat ini, coba dituangkan dalam film ke-tujuh IFI Sinema secara ringan namun tetap memberikan kejutan dan pesan moral bagi pecinta film Tanah Air. Baik, Upi sebagai penulis sekaligus sutradara, bersama IFI Sinema sebagai rumah produksi, hasil karya filmnya ini tidak saja menyasar kalangan anak muda, tapi juga orang tua.

Untuk menguatkan kriteria pemain yang pas sesuai karakter para pemeran dalam film My Generation yang mengangkat kehidupan remaja saat ini. Upi dan Adi dari IFI Sinema melakukan serangkaian pencarian atau audisi lewat serangkaian aktivasi, baik melalui media sosial atau secara langsung. Dan, akhirnya ditemukan anak muda berbakat sebagai pemeran 4 sahabat, yakni Bryan Warow, Arya Vasco, Lutesha dan Alexandra Kosasie.

image

Meskipun belum memiliki jam terbang, namun keterlibatan mereka tentunya bukan tanpa alasan. Mereka memiliki bakat terpendam, dimana mereka masing-masing ternyata telah berkecimpung dalam industri kreatif dengan menjadi model dan peraga iklan sebagi bekal yang diperlukan untuk berkecimpung di industri film. Lewat serangkaian workshop serta proses reading ketat yang sudah berjalan ini, baik Bryan, Vasco, Luthesa dan Alexandra terus mengasah dan menggali kemampuan yang dimiliki untuk mendalami karakter masing-masing.

“Gaya hidup masa remaja yang lepas dengan spirit ingin mencari banyak hal dalam kehidupan keseharian mereka. Ternyata secara tidak sengaja, ke-4 talent ini mirip dengan karakter dalam film sehingga mereka pun dapat lebih mudah mendalami karakter yang ada. Film ini mencoba memotret kehidupan anak muda masa kini yang lebih komplek di banding generasi sebelumnya sehingga sangat mendekati realita kehidupan kaum remaja metropolis,” terang Upi bersemangat.

Bryan Warao asal Jakarta yang memiliki hobi main game, olah raga, dan interior design ini menceritakan, karena tinggalnya berpindah-pindah sehingga dia tidak mempunyai teman dan terbiasa sendiri. Untuk itu, dia mencoba memberanikan diri mengikuti audisi film My Generation yang ternyata berhasil lolos untuk memerankan salah satu karakter. Menurutnya, ini merupakan prestasi terbesar sepanjang hidupnya. Dia pun berjanji, akan memberikan akting terbaiknya.

Begitu juga, Arya Vasco atau akrab disapa Vasco yang tinggal di Denpasar, Bali. Blasteran Indonesia Belanda yang sangat menyukai olahraga basket yang tengah ditekuni secara serius ini, merasa mendapatkan tantangan passion yang berbeda dengan terjun ke film. Menurutnya, ia akan serius menekuni dunia akting dan tidak main-main. Pastinya ia akan semangat untuk menggali pengetahuan, wawasan dan kemampuannya di film debut pertamanya agar dapat diakui di industri film yang dinamis ini.

Sementara, Luthesa yang pernah menjadi finalis modeling Go Girl! Look dari majalah Go Girl! tahun 2013 dan berkarir sebagai model yang lebih banyak tinggal di Bali ini bercerita bahwa karakter yang dibawakannya di film tidak terlalu jauh dengan kesehariannya. Meski jadi model tetapi gaya kesehariannya lebih nyaman ke arah kasual dan bahkan cenderung tomboi. Dan ini, ternyata mirip dengan debut pertamanya di film ‘My Generation’ sehingga dengan mudah Luthesa mendalami karakternya.

Antusias sama juga ditunjukkan oleh Alexandra Kosasie yang tinggal di Bali. Menariknya, Alexandra telah berteman dengan Vasco dan ketika di pertemukan pertama kali langsung surprise. Dia menuturkan, keterlibatanya dalam film ini saat bertemu teman di Bali yang ikut beradu akting di film ‘My Generation’ sehingga tambah semangat lagi untuk belajar secara serius. Pastinya, Alexandra ingin membuat bangga keluarganya, untuk itu dia benar-benar fokus mengikuti arahan dari sutradara dan produser.

Film My Generation yang siap menjalani syuting di seputaran Jakarta dan Bogor pada bulan ini, serta akan rampung pada pertengahan tahun 2017. Diharapkan, menjadi sebuah film yang memberi nilai edukasi bagi masyarakat, khususnya para orang tua bahwa jaman sudah berubah. Kita terlalu sering mendengar adanya generation gap, atau tidak terjadinya komunikasi yang baik antara orang tua dan anak-anaknya. Mereka sudah saling silang dengan persepsi masing-masing tentang apa yang sebaiknya dilakukan. Satu sisi, anak-anak muda bukan lagi generasi yang mudah di dikte atau di doktrin, sementara orang tua dengan kultur ya sendiri.|Edo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed