by

Film Iqro, Spirit Belajar Al Qur’an dan Sains di Ruang Keluarga

-Movie-89 views

image

Jakarta, UrbannewsID.| Menyaksikan film layar lebar berjudul Iqro: Petualangan Meraih Bintang karya Iqbal Alfajri produksi Masjid Salman ITB dan Salman Film Academy, sangat menarik dari sisi cerita. Film yang dikemas sebagai medium dakwah bagi keluarga Indonesia, khususnya anak-anak, mengangkat sebuah tema religi dan ilmu pengetahuan secara ringan agar mudah dipahami.

Kisahnya sendiri, diawali oleh seorang anak perempuan berusia 9 tahun bernama Aqila (Aisha Nurra Datau) yang sangat gandrung pada sains namun kurang punya minat belajar Al Qur’an. Aqila yang memiliki hobi dan minat mempelajari tentang tata surya (astronomi) ini, tidak lepas peran sang kakek (Cok Simbara) yang berprofesi sebagai astronom dan tinggal di Pusat Peneropongan Bintang Boscha, Bandung.

Saat mendapat tugas membuat karya tulis dari sekolah sesuai minat masing-masing murid dalam mengisi liburan. Aqila pun langsung antusias membuat tugas yang berhubungan dengan astronomi, apalagi dia sempat berdebat dengan temannya bahwa Pluto bukan planet. Hal inilah, mendorong Aqila ingin membuktikan kebenaran ucapannya dengan meminta ijin ke orang tuanya untuk berlibur sekaligus menyelesaikan tugas di rumah kakek dan neneknya.

image

Keinginan Aqila bak gayung bersambut, ternyata Neneknya (Neno Warisman) juga berharap cucunya ini menghabiskan liburan sekolah di rumahnya. Sesampainya di Bandung, Aqila langsung mengutarakan maksudnya untuk melihat, mempelajari, dan meneliti tata surya, khususnya Pluto, dengan meminta ijin ke kakeknya menggunakan teropong bintang di Boscha. Sang kakek dengan senang hati memberi ijin tapi dengan satu syarat, Aqila harus bisa membaca Al Qur’an. Aqila pun menyanggupinya.

Jalan cerita mengalir, Aqila yang ikut pesantren kilat mampu menyelesaikan tahapan Iqro dan dinyatakan bisa berlanjut membaca Al Qur’an. Tapi, disisi lain sang kakek mendapat masalah karena di sekitar Pusat Peneropongan Bintang Boscha akan dibangun sebuah hotel. Semestinya radius beberapa kilometer Boscha tidak boleh ada bangunan yang dikhawatirkan bias sinarnya akan mempengaruhi penglihatan. Karena untuk melihat gugusan tata surya yang ada dilangit harus gelap, dan tidak boleh ada polusi cahaya.

image

Problem inilah yang menjadikan Boscha tidak bisa digunakan, apalagi keputusan penyandang dana akan menghentikan kegiatan peneropongan. Membuat sang kakek merasa bersalah kepada cucunya yang kadung sudah dijanjikan menggunakan teropong. Singkat cerita, semua persoalan terselesaikan. Hotel tidak jadi dibangun, tugasnya sebagai astronom terus berlanjut, dan Aqila yang sudah pandai membaca Al Qur’an bisa menyelesaikan tugas sekolahnya. Janjinya untuk membuktikan bahwa Pluto bukan planet disambut baik oleh gurunya dan temannya.

Film Iqro: Petualangan Meraih Bintang yang diproduseri Budiyati Abiyoga ini, sepintas seperti film Petualangan Sherina dengan segala permasalahannya di titik lokasi yang sama yakni Boscha. Film sebagai sebuah tontonan, memang sejatinya sekaligus menjadi tuntunan. Dimana kedua-duanya harus berjalan seimbang, tanpa mengesampingkan satu sama lainnya. Sebagai tuntunan, jelas film ini menjadi medium dakwah untuk mendorong anak-anak belajar membaca Al Qur’an dan ilmu pengetahuan sejak sejak usia dini, tapi sebagai sebuah tontonan untuk menarik minat hadir dibioskop pun sangat penting.

Film yang akan diputar 26 Januari 2017 serentak di seluruh bioskop tahan air. Tanpa mengurangi apresiasi para penggagas dan pembuatnya, ada beberapa catatan sebagai koreksi. Pertama, dramaturgi yang terbangun dalam film ini kurang membawa penonton masuk kedalam cerita dan membangkitkan kedekatan emosional, alias terkesan datar. Misal, bagaimana penggambaran semangat perjuangan Aqila bisa membaca Al Qur’an yang menjadi salah satu inti cerita kurang digarap maksimal. Kalau pun ada, hanya scene yang mempertontonkan Aqila di beberapa spot sedang menghafal atau lewat kompetisi.

Belum lagi, kehadiran sosok Faudzi diperankan Raihan Khan yang nakal dan jail, pengadegan ceritanya pun kurang digarap maksimal. Sehingga kesan jailnya seperti dibuat-buat dan terlalu biasa saja. Begitu pula, teror bos yang akan membangun hotel di Boscha lewat kaki tangan preman yang diketuai Bang Codet (Mike Lucock) biasa saja, cenderung tidak memiliki porsi yang cukup membuat karakter Opa Wibowo (Cok Simbara) atau istrinya (Neno Warisman) merasa tertekan.

imageDan, terakhir menempatkan ending film ini dimana saat Aqila mempresentasikan karya tulisnya di depan guru dan teman saingannya yang berakhir saling mengakui dan bersahabat, setelah running teks para kru yang panjang dan terlalu banyak. Seperti diakui Iqbal Alfajri sang sutradara, sebenarnya kita sudah buat sesuai plot cerita secara keseluruhan, tapi problemnya kita harus memilih mana yang dibuang atau tidak demi durasi tayangan yang berlaku di bioskop. Sedangkan, running teks para kru dan lainnya ditaruh sebelum ending cerita dimaksudkan agar para penonton mengetahui orang-orang dibalik layar yang ikut terlibat.

Walau niat Iqbal Alfajri baik tapi ini bisa menjadi bumerang, karena biasanya penonton begitu running teks muncul mereka beranjak dari kursi untuk keluar studio. Sekali lagi, ini hanya sekedar catatan saja tanpa mengurangi apresiasi dan semangat pembuat serta pemainnya untuk memberi roh film Iqro: Petualangan Meraih Bintang membawa spirit membaca Al Qur’an dan Sains di ruang keluarga.|Edo (Foto Istimewa)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed