by

Film DPO, Dunia Cerita Kadang Tak Sejalan Dengan Dunia Nyata

-Movie-34 views

image

Jakarta, UrbannewsID. | Setelah peristiwa yang menimpa salah satu pemeran sekaligus produser film Detachment Police Operation (DPO), Gatot Brajamusti yang di cokok polisi karena kedapatan memiliki dan menggunakan narkoba beberapa waktu lalu, film ini sempat diragukan untuk ditayangkan di bioskop. Apalagi, sempat beredar isu yang menjadi trending topic di Twitter, salah satu petinggi Badan Ekonomi Kreatif meminta pemilik bioskop untuk tidak memberikan slot film DPO sebelum satu atau dua hari menjelang di seluruh bioskop Indonesia pada Kamis, 15 September 2016.

Film DPO karya sutradara LM Belgant yang di produksi Putaar Films Production dan Brajamusti Film, naskahnya ditulis oleh Rusli Rinchen, menghadirkan pemain Gatot Brajamusti, Torro Margens, Afdhal, Nabila Putri, dan lain-lain. H Dhoni Ramadhan, produser Putaar Films Production mengatakan, tidak ada alasan menunda tayang film DPO. Film merupakan sebuah karya kolektif yang melibatkan banyak orang, sehingga tidak ada hubungannya dengan peristiwa yang dialami pemainnya.

Ia menambahkan, peristiwa yang menimpa Aa Gatot terjadi dua minggu menjelang penayangan film DPO yang memang sudah lama dipersiapkan produksinya. Sebagai produser, Dhoni tidak ingin membatalkan penayangan filmnya tersebut. Terutama sejak mendapatkan slot jam tayang dari pihak bioskop. “Kalau saya membatalkan tayang, kan belum tentu juga dapat jam tayang lagi, karena padatnya antrian film Indonesia di bioskop,” jelas Dhoni, setelah acara nonton bareng bersama awak media dan juga undangan di XXI Epicentrum, Jakarta, Kamis (15/9) sore.

imageDPO adalah film kedua Aa Gatot setelah Azrax (2013) dimana dia berperan sebagai Azrax, tokoh yang membongkar kejahatan perdagangan wanita internasional di Hongkong. Di film DPO yang berdurasi 90an ini, Aa Gatot memerankan karakter Kapten Sadikin yang bersama tim DPO bentukannya itu mencokok gembong narkoba internasional bernama Satam (Torro Margens). Aksi Kapten Sadikin bermula dari matinya dua anggota polisi saat penggerebekan. Satu diantara polisi itu adalah keponakan Kapten Sadikin.

Atas izin komandannya, Kapten Sadikin membentuk tim DPO untuk menangkap Satam. Dia menghubungi beberapa mantan polisi dan petarung antaranya Yuli, Tatang, Andy dan Ganta. Aksi adu jotos dan tembak-menembak tim DPO dengan mafia narkoba asuhan Satam berlangsung sengit dan brutal di daerah kumuh Kampung Rawa Keling. Di sinilah Satam dan dua orang anaknya yang masih remaja, Oliver dan Edward bersembunyi.

Tim DPO menyerang Satam siang hari setelah Interpol dan polisi Thailand gagal membekuk Satam malam hari. Pertempuran berlangsung di gang-gang sempit, di atap rumah, di pasar sampai ke dalam rumah penduduk. Pasukan Satam menggunakan senjata pisau, kapak sampai berbagai jenis pistol. Ya, Film DPO sangat menarik, karena ceritanya berbanding terbalik dengan kenyataan sang aktor pemeran utama. Usai pemutaran secara khusus film DPO siang hari di Mataram Mall, malamnya Aa Gatot justru ditangkap polisi atas kepemilikan narkoba shabu-shabu di Hotel Tulip, Mataram, Lombok. Dunia cerita (fiksi) kadang tak sejalan di dunia nyata, tapi itulah film namanya.|Edo (Foto Dudut SP)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed