by

Film “Boven Digoel” Siap Rilis di Hari Kesehatan Nasional, November Mendatang

-Movie-15 views

image

Jakarta, UrbannewsID. | Film “Boven Digoel” yang mengangkat kisah heroik John Manangsang, seorang dokter muda kala itu bersama stafnya menyelamatkan dua nyawa, yakni ibu dan bayinya lewat operasi cesar hanya memakai silet di salah satu Puskesmas yang berada di wilayah pedalaman Tanah Merah, Boven Digoel, Papua, rencananya siap tayang di Hari Kesehatan Nasional atau sekitar bulan November 2016, di seluruh bioskop Tanah Air.

image

Film besutan sutradara FX Purnomo yang di produksi oleh Foromoko Matoa Indah Film ini sudah memasuki proses pasca produksi, setelah menyelesaikan syuting yang dilakukan selama kurang lebih 20 hari di Kampung Yahim Sentani, Danau Love Yoka Abepura, Bandara Ama Sentani, Pelabuhan Jayapura, Kampung Netar Sentani, Pantai Kelapa Satu Merauke, Tanah Merah Boven Digoel, Kampung Ampera Boven Digoel, Wilayah Wet Boven Digoel dan Pelabuhan Boven Digoel.

imageMenurut FX Purnomo atau akrab disapa Ipong Wijaya,”Kondisi alam Papua yang cukup susah dijangkau, menjadi tantangan dalam proses syutingnya. Perjalanan dari kabupaten Merauke ke kabupaten Boven Digoel harus ditempuh dengan perjalanan darat selama 10 jam untuk mendapatkan lokasi riil sesuai tempat kejadian di tahun 90-an, yaitu berupa puskesmas yang dulu digunakan untuk operasi sesar menggunakan silet,” bebernya kepada awak media, Sabtu (18/6).

Film “Boven Digoel”, selain menghadirkan aktris kawakan Christine Hakim berperan sebagai ibu dokter muda yang diperankan Joshua Matulessy atau populer dengan nama JFlow, seorang rapper. Film ini juga menghadirkan sederet para pemeran asal asli Papua, seperti Edo Kondologit, Lala Suwages, Ira Dimara, Maria Fransisca, Juliana Rumbarar, Ellen Aragay, Denny Imbiri, Echa Raweyai, Henry W. Muabuay, Bina Rianto, Tiot Karubuy, Yoppy Papey, Serly Wayoi, Jack Wadon, Ellin, Rey, Rossario Ivo dan Antonetta.

image

Menurut Christine Hakim, aktris kelahiran Kuala Tungkal, Jambi, 25 Desember 1956. Kehadirannya dalam film ini, selain karena temanya sangat menarik mengenai seorang dokter yang mengabdikan diri di belantara Boven Digoel Papua, ia juga ingin mengenalkan kepada masyarakat, bahwa Papua pun memiliki potensi besar dalam dunia perfilman. “Saat shooting film ini saya tak mengira kalau putra-putri asal Papua mempunyai kemampuan akting yang bagus dan sangat natural sekali. Mereka cepat sekali menghapal dialog dan cepat beradaptasi dalam produksi film. Mereka memang punya talenta dan sangat berbakat,” pujinya.

Sementara, John Manangsang sebagai pelaku sejarah mengungkapkan harapannya, semoga film yang mengangkat kejadian nyata 25 tahun yang lalu bisa menjadi inspirasi hari ini dan masa depan. “Padahal, kalau kita lihat jaman dulu, tenaga dokter spesial ibu dan anak belum banyak di Papua. Di satu propinsi saja bisa dihitung dengan jari, hanya satu-dua dokter. Sekarang di tiap kabupten ada satu hingga empat dokter. Rumah sakit sekarang ada dimana-mana,“ terang John Manangsang.

Film “Boven Digoel” yang menghadirkan deretan awak produksi cukup dikenal dalam dunia perfilman, seperti Yudi Datau (Penata Kamera Terbaik FFI 2005, Penata Kamera Terpuji FFB), Thoersi Argeswara (Penata Musik Terbaik FFI 2010 dan FFI 2011) dan Wawan I Wibowo (Penyunting Terbaik FFI 2009). Kisah nyata ini sebenarnya sudah dibukukan oleh Dokter John. Bahkan, sebelum diangkat ke layar lebar oleh rumah produksi asli Papua, Foromoko Matoa Indah Film, kisah nya sendiri sudah di filmkan dalam format FTV berjudul “Silet di Belantara Digoel Papua’ berformat FTV, dan meraih penghargaan Piala Maya 2015 untuk kategori Film Daerah Terpilih.|Edo (Foto Istimewa)

Berikut Sinopsis Film ‘Boven Digoel’

Kisahnya tentang John (27 tahun), lelaki kelahiran Jayapura, yang berprofesi sebagai seorang dokter di salah satu puskesmas di sebuah desa pedalaman di wilayah Tanah Merah, Boven Digoel, Papua. Sosoknya yang pintar bergaul, sopan, penuh dedikasi, dan selalu mengutamakan kepentingan orang banyak serta penuh kesabaran dan tetap teguh dalam pengharapan dalam suka maupun duka dalam segala hal ini, yang membuatnya disukai banyak orang.

Polemik kemudian muncul, ketika Dokter John dihadapkan sebuah kenyataan, dimana ia bersama stafnya harus melakukan operasi sesar terhadap seorang wanita bernama Ibu Agustina (35 tahun), yang notabene telah melahirkan sebanyak 9 kali. Tragisnya, Puslesmas Tanah Merah tidak mempunyai sarana yang memadai untuk melakukan operasi sesar ini. Ditambah lagi, masalah keterbatasan kemampuan tenaga kesehatan yang ada.

Setelah melakukan pemeriksaan lengkap dan melakukan wawancara medis dengan pasien, kesimpulannya, yaitu janin letak lintang, punggung janin di bagian bawah, tunggal, hidup dan cairan ketuban hampir habis. Kondisi yang tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa baik ibu maupun janin yang dikandungnya berada dalam ancaman bahaya.

Melihat situasi yang demikian, segera saja Dokter John melakukan rapat koordinasi dengan para bidan dan suster. Dokter John lalu memerintahkan Bidan Anthoneta dan Bidan Vince untuk pergi ke Perum Telkom guna melakukan sterilisasi alat-alat operasi. Karena aliran listrik di Puskesmas pada siang hari belum menyala, dan baru menyala menjelang maghrib sampai pukul 24.00 WIT (Waktu Indonesia bagian Timur). Suster Ancelina ditugaskan untuk menyiapkan kamar ruang operasi, sekaligus digunakan sebagai ruang bersalin. Sementara Suster Olivia bertugas menyiapkan beberapa dug steril dan perlengkapan lainnya. Sedangkan Dokter John sendiri harus pergi ke guang penyimpanan obat di kesusteran untuk mengambil kasa steril.

Keadaan tambah runyam, ketika sampai di gudang kesusteran Dokter John diberitahu oleh Suster Ivo kalau pintu gudang terkunci, dan kunci gudang dibawa oleh para suster ke Merauke. Setelah mengambil cairan obat bius di rumah tempat tinggalnya yang berjarak 1 kilometer dari puskesmas dengan berjalan kaki, lantaran satu-satunya mobil ambulance milik puskesmas ringsek dan rusak akibat kecelakaan 15 tahun sebelumnya, Dokter John kembali ke puskesmas. Namun baru saja tiba di puskesmas, Thomas, salah satu karyawan puskesmas memberitahu kalau pisau operasi sudah habis.

Dokter John lalu memberikan selembar uang kertas seratus rupiah kepada Thomas dan memerntahkannya untuk membeli silet. Lalu memerintahkan Bidan Willem dan Bidan Allex untuk merebus alat-alat operasi dengan menggunakan kayu bakar. Tepat pukul 10.10 WIT, operasi sesar terhadap Ibu Agustina dilaksanakan dengan silet bermerek “Tiger”.

Data Produksi Film “Boven Digoel”:

Pemeran:
Christine Hakim, Jflow Matulessy, Edo Kondologit, Lala Suwages, Ira Dimara,
Maria Fransisca, Ellen Aragay, Denny Imbiri, Echa Raweyai, Juliana Rumbarar, Henry W. Muabuay, Bina Rianto, Tiot Karubuy, Yoppy Papey, Serly Wayoi, Jack Wadon, Ellin, Rey, Rossario Ivo, Antonetta

Kru:
Departemen Produksi
Produser: John Manangsang
Sutradara: FX Purnomo
Produser Eksekutif: H. Sahri
Line Producer: FX Purnomo
Supervisi Produksi: Toto Soegriwo
Unit Manager: Yudha Matani & Bina Rianto
Pimpinan Produksi: Henry W. Muabuay & Dedi Alfiandri
Co-Sutradara: Wahyu Nugroho
Asisten Sutradara: Praditya Putri Ananda, Tiot Karubuy & Devi Surya
Ide Cerita: John Manangsang
Penulis Skenario: Jujur Prananto & FX Purnomo

Departemen Kamera
Penata Kamera: Yudi Datau
Asisten Kamera: Untung Kusrinto

Departemen Artistik
Penata Artistik: Dani Fadriyana
Penata Cahaya: Josep Yudi Hermawan
Penata Busana: Ernika Rumbarar
Penata Rias: Ernika Rumbarar

Departemen Suara dan Musik
Penata Suara: Asep Jaya Atmaja
Penata Musik: Thoersi Argeswara
Original Soundtrack: Etho Ririmase

Departemen Penyuntingan
Penyunting Gambar: Wawan I Wibowo

Produksi
Produksi: Foromoko Matoa Indah Film
Publicist: Akhmad Sekhu
Konsultan Hukum: Karel Van Houten Baransano, SH

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed