by

Film “Boven Digoel” 100% Karya Putra Papua!

-Movie-41 views

image

Jakarta, UrbannewsID.| Film kisah heroik John Manangsang, seorang dokter muda bersama para bidan yang telah menyelamatkan dua nyawa sekaligus, yakni ibu dan bayinya lewat operasi cesar hanya memakai silet di salah satu Puskesmas di wilayah pedalaman Tanah Merah, Boven Digoel, Papua. Setelah di persiapkan hampir satu tahun lebih, akhirnya siap rilis pada 9 Februari 2017 di bioskop tanah air.

image

Film berjudul “Boven Digoel” yang 100% di produksi oleh putra Papua lewat Foromoko Matoa Indah Film. Proses syuting dilakukan selama kurang lebih 20 hari, FX Purnomo sang sutradara yang akrab disapa Ipong Wijaya ini mencoba merekam kisah nyata dokter John senyata mungkin, termasuk tempat-tempat bertugas yang dia kunjungi dan juga tempat kejadian saat melakukan operasi di era tahun 90-an.

Ipong Wijaya menjelaskan, titik lokasi seperti di Kampung Yahim Sentani, Danau Love Yoka Abepura, dan sebagian besar di wilayah Boven Digoel, menjadi tantangan sekaligus daya tarik tersendiri film ini. “Bukan cuma sekedar kisah dokter muda, atau tempat-tempat eksotik yang diangkat dan dihadirkan di film ini. Tapi, ada hal lain yang paling membanggakan yakni hampir sebagian besar pemainnya putra-putri dari di tanah Papua,” jelas Ipong, disela tayangan perdana di Jakarta, Senin (6/1) sore.

image3

Menurut Christine Hakim yang ikut terlibat dalam film ini sebagai seorang ibu dari dokter muda yang diperankan Joshua Matulessy, rapper yang populer dengan nama JFlow. Papua memiliki potensi besar dalam dunia perfilman. “Bukan hanya tempat saja, tapi putra-putri asal Papua mempunyai kemampuan akting yang bagus dan sangat natural sekali. Mereka cepat sekali menghapal dialog dan cepat beradaptasi dalam produksi film. Mereka punya talenta luar biasa dan sangat berbakat,” pujinya.

Christine Hakim aktris kawakan ini pun menambahkan, sudah saatnya putra daerah dengan segala potensi yang dimilikinya muncul ke permukaan bertutur lewat perspektifnya sendiri seperti film Boven Digoel ini, guna menghiasi dunia perfilman tanah air untuk memperkaya khasanah kebudayaan bangsa. “Harapan saya film karya putra daerah semakin banyak bermunculan untuk mendapat tempat dan apresiasi di negerinya sendiri. Bukan hanya dari masyarakat penonton saja, tapi selayaknya Pemerintah pusat dan daerah ikut pula mendorong film sebagai produk budaya berkembang di daerah-daerah,” paparnya.

image2

Selain Christine Hakim dan JFlow, film Boven Digoel juga menghadirkan sederet para pemeran asal asli Papua, seperti Edo Kondologit, Lala Suwages, Ira Dimara, Maria Fransisca, Juliana Rumbarar, Ellen Aragay, Denny Imbiri, Echa Raweyai, Henry W. Muabuay, Bina Rianto, Tiot Karubuy, Yoppy Papey, Serly Wayoi, Jack Wadon, Ellin, Rey, Rossario Ivo dan Antonetta. Termasuk, awak produksi cukup dikenal dalam dunia perfilman, seperti Yudi Datau (Penata Kamera), Thoersi Argeswara (Penata Musik) dan Wawan I Wibowo (Penyunting).|Edo (Foto Dudut SP)

Berikut Sinopsis Film ‘Boven Digoel’

Kisahnya tentang John (27 tahun), lelaki kelahiran Jayapura, yang berprofesi sebagai seorang dokter di salah satu puskesmas di sebuah desa pedalaman di wilayah Tanah Merah, Boven Digoel, Papua. Sosoknya yang pintar bergaul, sopan, penuh dedikasi, dan selalu mengutamakan kepentingan orang banyak serta penuh kesabaran dan tetap teguh dalam pengharapan dalam suka maupun duka dalam segala hal ini, yang membuatnya disukai banyak orang.

Polemik kemudian muncul, ketika Dokter John dihadapkan sebuah kenyataan, dimana ia bersama stafnya harus melakukan operasi sesar terhadap seorang wanita bernama Ibu Agustina (35 tahun), yang notabene telah melahirkan sebanyak 9 kali. Tragisnya, Puslesmas Tanah Merah tidak mempunyai sarana yang memadai untuk melakukan operasi sesar ini. Ditambah lagi, masalah keterbatasan kemampuan tenaga kesehatan yang ada.

Setelah melakukan pemeriksaan lengkap dan melakukan wawancara medis dengan pasien, kesimpulannya, yaitu janin letak lintang, punggung janin di bagian bawah, tunggal, hidup dan cairan ketuban hampir habis. Kondisi yang tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa baik ibu maupun janin yang dikandungnya berada dalam ancaman bahaya.

Melihat situasi yang demikian, segera saja Dokter John melakukan rapat koordinasi dengan para bidan dan suster. Dokter John lalu memerintahkan Bidan Anthoneta dan Bidan Vince untuk pergi ke Perum Telkom guna melakukan sterilisasi alat-alat operasi. Karena aliran listrik di Puskesmas pada siang hari belum menyala, dan baru menyala menjelang maghrib sampai pukul 24.00 WIT (Waktu Indonesia bagian Timur). Suster Ancelina ditugaskan untuk menyiapkan kamar ruang operasi, sekaligus digunakan sebagai ruang bersalin. Sementara Suster Olivia bertugas menyiapkan beberapa dug steril dan perlengkapan lainnya. Sedangkan Dokter John sendiri harus pergi ke guang penyimpanan obat di kesusteran untuk mengambil kasa steril.

Keadaan tambah runyam, ketika sampai di gudang kesusteran Dokter John diberitahu oleh Suster Ivo kalau pintu gudang terkunci, dan kunci gudang dibawa oleh para suster ke Merauke. Setelah mengambil cairan obat bius di rumah tempat tinggalnya yang berjarak 1 kilometer dari puskesmas dengan berjalan kaki, lantaran satu-satunya mobil ambulance milik puskesmas ringsek dan rusak akibat kecelakaan 15 tahun sebelumnya, Dokter John kembali ke puskesmas. Namun baru saja tiba di puskesmas, Thomas, salah satu karyawan puskesmas memberitahu kalau pisau operasi sudah habis.

Dokter John lalu memberikan selembar uang kertas seratus rupiah kepada Thomas dan memerntahkannya untuk membeli silet. Lalu memerintahkan Bidan Willem dan Bidan Allex untuk merebus alat-alat operasi dengan menggunakan kayu bakar. Tepat pukul 10.10 WIT, operasi sesar terhadap Ibu Agustina dilaksanakan dengan sebuah silet.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed