by

Erros Djarot Bicara Kecintaan dan Kerinduannya Dengan Sang Khalik, Lewat Album Religi “Nabiku Cintaku”

-Music-85 views

image

Jakarat, UrbannewsID. | Di era tahun 70’an, lahir musisi hebat yang membawa pembaharuan di skena musik Indonesia lewat karya-karya yang dianggap cukup fenomenal. Ya, dia adalah Soegeng Waluyo Djarot atau yang lebih dikenal dengan nama Erros Djarot, mencuat namanya berkat kepiawannya mengolah nada dan merangkai kata menjadi tembang yang terangkum dalam album “Barongs” (1975), “Badai Pasti Berlalu” (1977), “Manusia-Manusia” (1986), ), “Resesi” (1983), “Detik” (1997), “Pemilu” (2009).

Pria kelahiran Rangkasbitung, Banten, 22 Juli 1950 silam ini, dikenal sebagai budayawan dan terakhir juga politikus Indonesia. Kepiawaiannya bukan hanya di dunia musik saja, tapi juga mengantarkan dirinya masuk dalam jajaran sineas yang mumpuni di Indonesia. Setelah karya musik monumental “Badai Pasti Berlalu” yang menjadi soundtrack untuk film yang berjudul sama pada awal tahun 1970-an. Tahun 80-an, kembali namanya mencuat setelah berhasil menjadi sutradara film Cut Nya Dien yang juga monumental.

Konon katanya menjadi film Indonesia termahal pada zamannya dan sekaligus proyek idealis Erros. Film ini telah mengantarkan Indonesia untuk pertama kali berkibar di di Festifal Film Cannes, Perancis, sebuah festifal film internasional paling bergengsi. Kemudian, disusul dengan film dokumenter musik Kantata Takwa dan Lastri sebagai sutradara. Setelah sekian puluh tahun tak lagi melahirkan karya musik dari tangannya, apakah ini pertanda ia sudah meninggalkannya. Erros Djarot mengatakan, bahwa ia akan selalu mencintai musik yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Maka, di Bulan Ramadan yang penuh berkah ini, Erros membuktikan dirinya masih tetap berkreasi lewat mini album religi bertajuk “Nabiku Cintaku”. Empat lagu yang diciptakan dan bertengger di albumnya ini, sebagai bukti kecintaannya dalam dunia musik, sekaligus menjawab tantangan para sahabat masa kecilnya yang meminta dirinya jangan hanya menulis lagu-lagu romantis melulu, tapi coba membuat lagu religi di Ramadan tahun ini. Tapi, ini pun sekaligus menjadi ungkapan terimakasih, kecintaan, dan kerinduannya dengan sesuatu yang berhubungan dengan Sang Khalik.

imageEros Djarot mengemas musik seluruh lagu dalam album ini dengan begitu mewah. Seperti pada lagu “Cintamu Ya Rasul” yang dinyanyikan Mustafa Debu dengan sentuhan irama bernuansa Spanyol. Sedangkan lagu “Gadis Berkerudung Putih” yang didendangkan Gilang Samsoe, menceritakan tentang kerinduannya akan pemandangan masa lalu dimana ibu-ibu banyak yang mengenakan kerudung, tampak begitu anggun. Begitu juga, di lagu “Rinduku PadaMu” oleh Fryda Lucyana dan lagu “Nabiku Cintaku” yang dibawakan kembali oleh Gilang Samsoe, terlihat sangat berbeda dari album religi lainnya.

Pria berusia 65 tahun ini, ingin mengajak pendengarnya untuk merasakan apa yang dirasakan dan dipahami tentang keindahan memiliki Tuhan. Eros Djarot yang menggandeng Anwar Fauzi sebagai penata musiknya, sengaja ingin meyuguhkan musik religi yang tidak sendu, tapi cenderung lebih upbeat. Menurutnya, kalau buat lagu jangan yang berat, harusnya ceria dan gembira. “Islam itu kan gembira,” paparnya, saat jumpa pers di Birdcage, Panglima Polim, Jakarta Selatan, Jumat (24/6).

Proses pembuatan album ini cukup menarik. Menurut Erros di laman fecebooknya, sebenarnya ia sudah merampungkan sekitar 8 lagu dua bulan lalu. Namun sayang, tidak bisa beredar karena salah satu penyanyinya kala itu, yakni Fadli vokalis Padi atau Musikimia, diikat kontrak oleh sebuah lebel asing (pma) yang menurut Erros cara pengingatannya terkesan sangat eksploratif, sehingga Fadli tanpa daya. Erros yang nampak kecewa ini, akhirnya mau tidak mau harus mencari pengganti dan juga melakukan proses rekaman ulang, dan akhirnya Gilang Samsoe hadir di album “Nabiku Cintaku”.|Edo (Foto Dudut SP)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed