by

Dr. Bramundito: Musik Adalah Dunia Kedua Dalam Hidupku!

-Music-113 views

image

Jakarta, UrbannewsID.| Tidak bisa dipungkiri bahwa musik memangmerupakan hal yang cukup menyenangkan. Sebagian orang tidak bisa lepas medengarkan musik, baik secara sengaja maupun tidak dalam kesehariannya. Ada yang lebih senang mendengarkan musik seperti pop atau jazz, secara irama sedikit tenang dan mudah dinikmati tanpa distorsi. Begitu pun, ada yang lebih bertenaga seperti musik rock, hardcore, punk dan metal. Ragam jenis musik yang ada seakan mewakili sebagian kaumnya. Dan, inilah uniknya musik!

Bahkan, musik telah menjadi bagian dari gaya hidup sekaligus hobi yang tidak lagi mengenal batas usia, jenis kelamin ataupun latar belakang profesinya. Kini mereka mencoba untuk mengekspresikan apa yang ia rasakan dengan bermain musik. Ada yang sekedar coba-coba karena hobi, tapi tidak jarang pula yang melakukannya secara serius menjadi profesi. Seperti yang dilakukan pria kelahiran Jakarta, 6 Mei 1962, ditengah kesibukan profesi aslinya sebagai seorang dokter ahli kebidanan dan kandungan di Rumah Sakit Pondok Indah diam-diam telah menghasilkan 3 buah album rekaman. Ya, dia adalah Dr. Bramundito, Sp.Og.

Suami dari dr. Wigati Purbarini yang telah dikaruniai 3 orang putra dan putri, yakni Apsari Anindita, Amarrhendhra Abbirama, dan Pandya Praharsa, kegemarannya terhadap musik sejak ia masih sekolah dulu. Dr. Bram yang akrab disapa mengaku lebih suka sijuluki sebagai pemusik amatir, siapa nyana ia yang hobi menulis segala cerita berbalut notasi akhirnya menjadi sebuah lagu. Hobinya bermusik inilah, ia ekspresikan dan tunjukkan karyanya kedalam beberapa album musik sebagai tanda bukti bahwa ia memang layak disebut seorang musisi. Dr. Bram kini hadir melengkapi para profesional yang terjun menjadi musisi berkat hobi dan kepiawaiannya meracik lagu.

Debutnya menjadi seorang musisi lewat album perdananya bertajuk “Dunia Baru” berisikan 12 lagu yang di rilisnya pada tahun 2008. Karya lagu dalam album ini, yakni ‘Lama Kunanti’ yang dibawakan penyanyi muda, Matthew Sayersz. Lalu lagu, ‘Bersemi di Bali’ dibawakan oleh Ivan Nestorman, dan ‘Jangan Harap’ yang dibawakan Tompi, cukup ngehits ditangga beberapa radio kala itu. Dalam album ini pula, ia menggandeng beberapa musisi berpengalaman sahabatnya untuk ikut terlibat memberikan sentuhan hasil karyanya, diantaranya Yudhistira Arianto, Andy Bayou, almarhum Ade Hamzah, dan juga Tohpati Ario.

Ditengah kesibukan bergelut dengan para pasiennya, Dr. Bramundito tetap bisa meluangkan waktu terhadap hobi bermusiknya. Saat bincang santai bersamanya di sebuah Cafe di bilangan Pondok Indah Mall, Jakarta, Selasa (8/2) malam, ia mengatakan,”Saya berusaha mengatur waktu ditengah rutinitas sebagai dokter. Selesai bertugas, sore hari biasanya saya kembali kerumah untuk istirahat dan mencoba ngulik lagu dari ide yang muncul arau meneruskan lagu yang tertunda. Tentunya, tetap stand by 24 jam jika ada pasien yang memerlukan penanganan medis segera,” jelas Dr. Bram, saat bincang santai di sebuah cafe bilangan Pondok Indah Mall, Rabu (8/2) sore.

Kecintaan terhadap musik inilah, setelah debut album pertama di rilis. Tiga tahun kemudian, Dr. Bram meluncurkan album keduanya berjudul “Perjlanan Panjang”. Album yang kali ini berisikan 11 lagu, ia mengajak serta musisi seperti Rio Moreno, Yudhistira Arianto, Barry Likumahuwa, Harry Goro, Andy Bayou, almarhum Ade Hamzah. Tentunya, ia tidak lupa menyertakan kembali Tohpati Ario sebagai produser maupun arranger. Beberapa hits-nya sempat masuk menjadi airplay radio-stations di kota-kota besar, yakni ‘Setahun Sudah’ dibawakan Soulmate. Lalu, ‘Pasti Mampu’ oleh Chaseiro, serta satu lagu dibawakan Matthew Sayersz berjudul ‘Lama Kunanti’.

Dr. Bramundito Abdurrachim, Sp.Og. yang hingga kini masih rutin setiap hari buka berpraktek di sebuah rumah sakit ternama di kawasan selatan ibukota Jakarta. Musik yang tidak bisa lepas dari kehidupannya sejak sekolah dulu, adalah dunia keduanya yang lain. Dunia khusus yang membuat hidupnya lebih bergairah dan bersemangat. Kepiawaian menulis lagu, tak pernah direncanakan seperti halnya ia akan menjadi seorang dokter. Dr. Bram yang membentuk grup band “The Dokters” bersama para sahabat seprofesi, menuturkan,”Segala sesuatunya mengalir saja. Saya hanya menjalani segala sesuatunya dengan puji syukur. Dan, ini adalah satu cara saya menjaga keseimbangan antara hati dan pikiran,” kilahnya.

Maka, tidak heran jika kecintaannya terhadap musik memacu kreatifitasnya untuk terus berkarya. Di penghujung tahun 2016, lagi-lagi Dr. Bram menggelontorkan album ketiganya bertajuk “La Rambla”. Album ini, kembali melibatkan Andy Bayou, Yudhistira Arianto, Barry Likumahuwa, Tohpati Ario, serta nama lain yang ikut terlibat yakni Ari Darmawan. Album yang berisikan 10 lagu ini, ada 2 lagu yang sudah wara-wiri diputarkan beberapa stasiun radio terkemuka yaitu ‘La Rambla’ yang sekaligus menjadi judu album dibawakan Soulmate, dan ‘Takkan Nyata’. yang dibawakan penyanyi muda, Latinka. Sementara, kedua lagu tersebut musiknya di garap Tohpati.

Ketika ditanya kapan bikin lagunya? Ia hanya tersenyum dan mengungkapkan bahwa ide atau inspirasi membuat lagu bisa datang dimana saja dan kapan saja. Dr. Bram mencontohkan lagu La Rambla, menurutnya dituliskan dan digubahnya saat ia berada di kota Barcelona. Ia sangat terkesan dengan kawasan yang jadi destinasi turis mancanegara, ada keceriaan yang dirasakan saat berada di La Rambla dan lantas mendorongnya membuat sebuah lagu. Begitu pun dengan lagu lainnya, inspirasi lagu muncul kadang tidak sengaja dari cerita dan kisah yang kerap ia jumpai di seputar kehidupan dirinya maupun orang lain.

Ada hal yang menarik, Dr. Bram tidak ingin menyanyikan karya lagunya dan lebih memilih menjadi seorang penulis lagu. Lantas menyerahkan sisi musik dan kemasannya musiknya kepada musisi profesional sahabatnya unruk menerjemahkan ide-ide lagu yang dibuatnya. Selain, mencarikan penyanyi-penyanyi yang pas untuk menyanyikan lagu-lagunya. “Saya cukup menulis lagu saja dan menjadi eksekutif produser. Sisi musik dan penyanyi, ia pilih untuk menyerahkannya kepada ahlinya yang memang dunia utamanya adalah bermusik dan bernyanyi,” ujar Dr. Bram.

Maka, tidak heran proses penggarapan album ketiga ini terbilang cukup lama, kurang lebih sekitar 2 tahun diperlukan untuk menyelesaikannya. Terutama, harus menyesuaikan dengan kesibukan para produser atau arranger yang telah dipilihnya. Walau terbilang cukup lama, Dr. Bram justru merasa puas dengan album ketiganya. Menurutnya, justru ia lebih banyak waktu untuk mempersiapkan segalanya secara matang, baik pemilihan penyanyi yang tepat termasuk proses mixing dan mastering dilkukan di sebuah studio di Amerika.

Musik dalam album ini lebih ke pop dengan sentuhan jazz. Dr. Bram yang kini mempunyai dua profesi yang saling melengkapi, yakni sebagai dokter kebidanan dan juga penulis lagu. Karya lagu dalam album ketiganya yang sudah bisa di unduh di digital store dan fisiknya sudah bisa diperoleh di beberapa outlet. Album yang memberikan kebahagiaan tersendiri bagi dirinya dan keluarganya, sekaligus tanda bukti keseriusannya menjadi pencipta lagu, Ia berharap karyanya ini bisa diterima dan dinikmati oleh para pecinta musik di tanah air.|Edo (Foto Dudut SP)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed