by

Death Distortion Bukan Sekedar Band, Tapi Brand Band!

-Music-22 views

IMG_20170523_174144

Jakarta, UrbannewsID.| Suatu ketika majalah metal internasional asal Inggris, Metal Hammer, tidak tanggung-tanggung menyertakan 12 band metal berbahaya asal Indonesia sebagai bonus CD dalam edisi nya. CD kompilasi bertajuk Slave New World yang berisikan 15 lagu dari 15 band metal dari berbagai belahan dunia lainnya, dikurasi oleh Max Cavalera, mantan vokalis Sepultura yang kini menjadi frontman Soulfly.

Hal ini, untuk membuktikan secara diam-diam skena musik metal di Indonesia telah jadi subkultur besar dan boleh dibilang telah menuai prestasi gemilang di berbagai penjuru dunia. Ditambah lagi, Joko Widodo sebagai Presiden Republik Indonesia yang menyukai musik keras ini, mendapat apresiasi dan julukan presiden “metalhead” dari Randy Blythe frontman Lamb of God, bahkan Dave Mustaine personel Megadeth mengundang khusus Jokowi hadir konsernya di Hammersonic beberapa waktu lalu via twitter.

Maka tidak heran, sekumpulan musisi yang wara-wiri di panggung musik rock tanah air membangun squad baru musik cadas bernama “Death Distortion”. Pasukan inti ini, terdiri dari wajah-wajah lama yakni Trison Manurung (lead vocal Roxx & ex Edane), Wawan Cher (ex gitaris Blue Savana, Wolfgangs dan No Limits), Ega Liong (gitaris Blackout Band), Didiek Orange (ex basist Roxx dan One Feel), serta Rian Dani, drummer berbakat muda belia (15thn) asal Papua.

Death Distortion dibawah bendera Putra Mandala Production ini, bahkan sudah menelurkan album penuh bertajuk “Reinkarnasi” yang berisi 10 lagu cadas di dalamnya. Album yang digelontorkan satu tahun lalu, memang diharapkan kehadiran Death Distortion bisa mengisi di lembaran katalog musik cadas serta mampu menggelorakan semangat musiknya untuk tetap meggema, dan tentunya mendapat tempat di hati para penggemarnya di tanah air.

Saat bincang santai dengan para personil Death Distortion, Senin (22/5) sore, di Vans Studio, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ada hal menarik cerita seputar band yang satu ini. Ditelisik lebih dalam, Dead Distortion yang menampilkan formasi dua gitar, memang punya passion ngembangin musik metal yang lebih modern atau sebut Modern Metal. Menurut Trison, pilihan duet gitaris Wawan – Ega menjadi sangat pas karena dibutuhkan sound yang lebar dan tebal di musik metal.

Trison menambahkan, hal ini bisa di dengar di lagu ‘Death Distortion’, ‘Reinkarnasi’ atau lagu ‘Ambisius’ yang terlihat warna modern rock seperti metalnya Metalica. Dan, paling menarik sekaligus menjadi semacam personifikasi dari Death Distortion yaitu kehadiran Rian Dani musisi paling muda yang berdarah Makasar Papua, di posisi drumm. Disini peran Rian sebagai pengatur tempo terasa istimewa, apalagi diperkuat betotan bass Didiek Orange, mampu melubur menjadi satu dengan para seniornya.

Death Distortion nampaknya mulai menggeliat dari tidurnya. Setelah menghadirkan single Reinkarnasi yang sudah di buatkan video klip nya termasuk single Death Distortion, kini mereka bersiap memperkenalkan single “Terbang Bersama Garuda”. Lagu yang bercerita tentang persaudaraan dan persahabatan yang indah antar suku bangsa, musiknya banyak memainkan gitar akustik, dengan perkusi tifa asal Papua.

Lagu yang sedang dipersiapkan video klipnya ini, peluncurannya di tengah kondisi suasana politik penuh hingar bingar mampu menjadi obat perakat untuk saling menggenggam tangan dalam kedamaian. Sebuah pesan bahwa perbedaan bukan halangan untuk tetap bersama, apalagi sampai tercerai berai. Dengan single ini, Death Distortion berharap bisa memberikan kontribusi positif untuk bangsa, dan industri musik Indonesia.

Di era milenial, percepatan teknologi menjadi sangat penting dan mutlak untuk dipahami. Kalau tidak, jadinya seperti katak dalam tempurung. Bicara teknologi tidak melulu menyoal pada digitalisasi produk musiknya saja, akan tetapi bisa lebih luas lagi. Salah satunya, perkembangan teknologi informasi yang terus berevolusi dari waktu ke waktu yang memberikan kemudah bagi para musisi menyebarkan informasi kepada para penggemar tentang musik, karya lagu, segudang aktivitas dan segala tetek bengeknya.

Beragam bentuk teknologi informasi, bisa berupa aplikasi (apps) sebuah platform yang kini populer, Vlog (video blog) medium yang sedang “hot”, atau salah satu bentuk teknologi yang juga sedang tren yaitu streaming atau show live. Bahkan, band sekelas Radiohead sudah memulai menjajakan karyanya lewat sebuah aplikasi bernama PolyFauna. Begitu juga penyanyi nyentrik Bjork telah merilis album multimedia berjudul Biophilia sejak beberapa tahun silam.

Satu lagi, ini tidak kalah pentingnya bagi para musisi saat ini dalam membentuk sebuah band harus berorientasi layaknya membangun sebuah brand. Ibarat sebuah produk, band yang ikut bertarung di idustri musik tidak saja menawarkan lagu atau musik yang bagus, tapi juga harus pandai mengemasnya yang memilki nilai jual tinggi. Digitalisasi informasi menjadi keharusan, agar band mudah dikenali. Begitu pun, Death Distortion bukan sejedar band, tapi menjelma menJadi brand band.|Edo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed