by

Christine Hakim Siap Membintangi Film “Silet di Belantara Digoel Papua”

-Movie-21 views

Film Silet di Belantara Digoel Papua

Jakarta, UrbannewsID. | Kisah heroik dari pengalaman nyata John Manangsang, lelaki kelahiran Jayapura yang berprofesi sebagai seorang dokter yang saat itu berusia 27 tahun di salah satu Puskesmas yang berada di wilayah pedalaman Tanah Merah, Boven Digoel, Papua, bersama stafnya dihadapkan pada sebuah kenyataan. Puskesmas Tanah Merah tempat dia bekerja, tidak mempunyai sarana yang memadai untuk melakukan operasi cesar seorang wanita bernama Ibu Agusina (35 tahun) yang telah melahirkan sebanyak 9 kali.

Setelah melakukan pemeriksaan lengkap dan melakukan wawancara medis dengan pasien, kesimpulannya, yaitu janin letak lintang, punggung janin di bagian bawah, tunggal, hidup dan cairan ketuban hampir habis. Kondisi yang tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa baik ibu maupun janin yang dikandungnya berada dalam ancaman bahaya. Melihat situasi yang demikian, segera saja dokter John melakukan rapat koordinasi dengan para bidan dan suster.

Dokter John pun memerintahkan Bidan Anto dan Bidan Vince untuk pergi ke Perum Telkom guna melakukan sterilisasi alat-alat operasi. Karena aliran listrik di Puskesmas pada siang hari belum menyala dan baru menyala menjelang maghrib sampai pukul 24.00 WIT (Waktu Indonesia Tengah). Suster Ancelina ditugaskan untuk menyiapkan kamar ruang operasi, sekaligus digunakan sebagai ruang bersalin. Sementara Suster Lidia bertugas menyiapkan beberapa dug steril dan perlengkapan lainnya.

Saat Dokter John pergi ke gudang penyimpanan obat di kesusteran untuk mengambil kasa steril. Keadaan tambah runyam, sampai di gudang kesusteran Dokter John diberitahu oleh Suster Ivo kalau pintu gudang terkunci dan kunci gudang dibawa oleh para suster ke Merauke. Setelah mengambil cairan obat bius di rumah tempat tinggalnya yang berjarak 1 kilometer dari Puskesmas dengan berjalan kaki, lantaran satu-satunya mobil ambulans milik Puskesmas ringsek dan rusak akibat kecelakaan 15 tahun sebelumnya.

Namun, begitu tiba kembali di Puskesmas, Thomas, salah satu karyawan Puskesmas memberitahu kalau pisau operasi sudah habis. Dokter John lalu memberikan selembar uang kertas seratus rupiah kepada Thomas, dan memerintahkannya untuk membeli silet. Kemudian, memerintahkan Bidan Willem dan Bidan Allex untuk merebus alat-alat operasi dengan menggunakan kayu bakar. Tepat pukul 10.10 WIT, operasi cesar terhadap Ibu Agustina dilaksanakan dengan silet bermerek “Tiger”.

Kisah nyata yang sudah dibukukan oleh Dokter John ini, menceritakan pergumulan dan perjuangan dokter muda yang ditempatkan di Puskesmas pedalaman Papua yang berupaya menyelamatkan dua nyawa, yakni ibu dan bayinya lewat operasi cesar hanya memakai silet, siap diangkat kelayar lebar dengan judul ‘Silet di Belantara Digoel Papua’ oleh Foromoko Matoa Indah Film. Bahkan sebelumnya, film ‘Silet di Belantara Digoel Papua’ yang masih berformat FTV pernah meraih penghargaan Piala Maya 2015 untuk kategori Film Daerah Terpilih.

John Manangsang sebagai pelaku sejarah, sekaligus juga produser mengatakan, produksi film yang mengangkat kejadian 25 tahun yang lalu bisa memberi inspirasi untuk hari ini dan masa depan.

Pertaruhan yang luar biasa. Bukan hanya hidup mati pada pasiennya, tapi juga hidup mati dokternya karena kondisi hutan dengan tidak ada bius untuk operasi, peralatan terbatas, tidak ada tenaga dokter yang memadai jadi melakukan operasi cesar dengan memakai silet. Saat itu, tenaga dokter spesial ibu dan anak belum banyak di Papua, bisa dihitung dengan jari hanya satu-dua dokter. Sekarang, di tiap kabupaten ada satu hingga empat dokter, dan rumah sakit ada dimana-mana,” ungkap John.

Film Silet di Belantara Digoel Papua 2Untuk memperkuat film ‘Silet di Belantara Digoel Papua’, rumah produksi Foromoko Matoa Indah Film menggandeng aktris kawakan yang banyak meraih Piala Citra, Christine Hakim, untuk berperan sebagai ibu dari sang dokter. FX Purnomo yang didampuk sebagai sutradara mengatakan, selain berakting, Christine juga siap menjadi Duta Film ‘Silet di Belantara Digoel Papua’. Iponk panggilan akab FX Purnomo menambahkan, tantangan dalam proses shooting-nya yaitu kondisi alam Papua yang cukup susah untuk dijangkau. Team Produksi Film ‘Silet di Belantara Digoel Papua’ akan melakukan perjalanan dari kabupaten Merauke ke kabupaten Boven Digoel yang ditempuh dengan perjalanan darat selama 10 jam. Lokasi shootingnya menggunakan set artistik yang riil dengan tempat kejadian di tahun 90-an, yaitu berupa Puskesmas yang dulu digunakan untuk operasi cesar menggunakan silet.

Christine Hakim yang biasanya sangat hati-hati untuk menerima sebuah peran dalam film, menuturkan:

Pertimbangannya, bukan hanya masalah kontrak yang menjadi urusan manajemennya, tapi lebih pada mengenai ceritanya. Kalau memang alur ceritanya bagus dan logis, tentu saja saya menerimanya. Apalagi, ceritanya diangkat dari kisah nyata dokter yang menantang maut melakukan operasi caesar dengan silet di belantara Digoel Papua sekitar tahun 1990-an. Keterlibatan saya dalam film ini, sekaligus juga bentuk silaturahmi dengan saudara-saudara saya di Papua lewat sebuah film,” jelasnya.

|Edo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed