by

“Cermin 7”, Album Teranyar Godbless!

-Music-124 views

image

Jakarta, UrbannewsID.| Angka 7 menjadi sebuah angka yang spesial bagi Group musik rock legendaris Indonesia, Godbless. Angka yang tertera dan dilekatkan pada judul album teranyar Godbless berjudul “Cermin 7”. Bukan saja sebagai penanda bahwa ini adalah albumnya yang ke-7, tapi proses menuju ke album ini pun butuh waktu 7 tahun setelah album berjudul “36 Tahun” yang dirilis pada tahun 2009.

Lagi-lagi, apa ini kebetulan apa tidak. Godbless yang sudah menapaki kariernya di panggung musik tanah air selama 43 tahun, sejak didirikan pada bulan Mei 1973. Menurut Achmad Albar, angka 7 ini seperti sebuah angka keberuntungan bagi Godbless. “Kalau dikotak-katik atau dijumlahkan kedua angka usia Godbless 43 tahun, hasilnya pun menjadi 7 juga,” ujar Ahmad Albar, penuh senyum.

Berita persiapan proses penggarapan album ke-7 Godbless ini, sebenarnya sudah disampaikan lewat gelaran syukuran yang dilaksanakan di Restoran Kampoeng Bangka, Jakarta Selatan, pada Juni 2016 lalu. Setelah melalui serangkaian persiapan hingga masuk dapur rekaman, mastering dan juga mixing yang memakan waktu 7 bulan sejak syukuran pertama, Godbless kembali gelar syukuran sekaligus dilanjutkan dengan konser perdana album “Cermin 7” di Studio 5 Indosiar, Jakarta, Sabtu (17/12).

image

Album teranyar ini berisikan sekitar 12 lagu, dan menariknya 9 diantaranya berisikan materi lagu album ke-2 Godbless “Cermin” rilisan tahun 1980. Menurut Ian Antono, dia membongkar kembali artefak lagu rock tersebut dan menyajikannya dalam kemasan yang lebih segar tanpa mengubah bagan masing-masing lagu. Karena “Cermin” dipandang menyimpan sejumlah karya kuat yang tetap menantang kreativitas. “Banyak lagu bagus yang pada waktu penggarapannya dulu masih menggunakan teknologi sederhana,” kata Ian Antono.

Album Cermin sebenarnya merupakan representasi dari pemberontakan God Bless terhadap dominasi industri rekaman ketika itu selalu mencekokkan komersialisme atas tuntutan pasar yang sedang didominasi musik pop bertemakan cinta dalam pandangan secara sempit. Bahkan, ada pengamat musik mengatakan album ini sering disebut-sebut sebagai album God Bless paling idealis dan terbaik dari sisi musikalitasnya. Dan menjadi barometer kualitas sebuah band rock waktu itu, manakala mampu memainkan lagu-lagu dari album Cermin.

Maka tidak heran empat para punggawa Godbless, yakni Achmad Albar, Ian Antono, Donny Fattah dan Abadi Soesman pun sepakat untuk menghidupkan kembali lagu-lagu klasik seperti “Selamat Pagi Indonesia”, “Anak Adam”, “Cermin”, “Musisi”, maupun “Balada Sejuta Wajah”. Sehingga para penggemar musik rock yang sudah terlanjur jatuh cinta tidak perlu merasa kehilangan dengan masuknya beberapa unsur bebunyian baru. Apalagi, bergabungnya Fajar Satritama ke dalam formasi Godbless sungguh menyuntikkan darah segar”.

image

Dengan teknik pukulan sangat bertenaga, salah seorang pendiri kelompok Edane ini sukses menjaga keseluruhan Beat. Bahkan untuk lagu tertentu, sebut saja “Musisi”, harus diakui kontribusinya menjadikan lagu tersebut lebih agresif dari versi asli. Begitu juga dengan “Anak Adam”, lagu berirama progresif yang pada sekitar 30 tahun silam pernah menjadi “lagu wajib” festival musik rock di berbagai kota Indonesia”. Jika harus dicari perbedaan lain, hal itu terletak pada tarikan vocal Achmad Albar, yang tentu saja jauh lebih matang.

Dalam album “Cermin 7”, Godbless tetap menghadirkan karya segar sebagai single jagoan bertajuk “Damai”. Lagu yang liriknya ditulis oleh Teguh Esha, penulis novel remaja terkenal “Ali Topan Anak Jalanan” ini terasa sangat kontekstual dengan situasi dalam negeri penuh dengan hingar-bingar belakangan ini. Dikemas dalam irama medium Beat, aransemen yang ringan adalah bahasa musik yang mengajak siapa saja untuk memasuki ruang optimisme. Liriknya pun tidak memperlihatkan struktur yang rumit sehingga sangat mudah diingat dan dibawakan.

Seperti biasa, Godbless acapkali ingin menyampaikan pesan moral melalui karya seni musik, baik soal humanisme, ketidakadilan, cinta antar sesama maupun dengan alam, dan sebagainya yang menjadi kekuatannya. Album “Cermin 7” direkam dengan semangat kesenimanan yang tetap menyala ketika penjualan fisik tak kunjung bangkit dari keterpurukan, dan era digital belum sepenuhnya dapat menjadi rujukan sukses komersial. Personil Godbless seperti menafikan mimpi sebagian besar musisi itu. Bahkan edar fisiknya yang direncanakan dalam format double album menjadi semacam “perlawanan” pada kenyataan tersebut.

Secara filosofi, rampungnya pengerjaan album “Cermin 7” diharapkan menjadi inspirasi yang tetap mengobarkan semangat kreatif bahwa dunia musik rock Indonesia tetap hidup dan memiliki tempat tersendiri. “Kami tidak memusingkan hasil penjualannya. Yang penting tetap berkarya dari dulu sampai sekarang Godbless adalah band panggung bukan rekaman” kata Achmad Albar yang diamini oleh Donny Fattah. “Kalau pertimbangannya hanya pada penjualan fisik mau pun sistem digital, kami tak akan pernah kunjung rekaman,” tambahnya.|Edo (Foto Ihsan)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed