by

Biarkan Kearifan Lokal Bercokol di Pola Pikir Sineas!

-Movie-111 views

image

Jakarta, UrbannewsID.| Belum lama ini, tepatnya hari Rabu (24/5) pagi sekali, hadir memenuhi undangan dialog perfilman yang diselenggarakan Pusbang Perfilman Kemendikbud bekerjasama Forum Wartawan Hiburan (Forwan) dengan tema “Kearifan Lokal Sebagai Kekuatan Produk Film Indonesia di Tengah Penetrasi Budaya Asing”, di Hotel Santika Premiere, Slipi, Jakarta Barat.

Lantas apa yang bisa disimpulkan dari tema dialog diatas? Apakah ada penyakit psikis berupa ketakutan yang berlebihan terhadap “lunturnya rasa kebangsaan” menjadi alasan utama untuk merepresi pikiran dan tindakan kreatif para sineas yang dianggap terlalu mengagungkan nilai-nilai budaya luar. Sehingga, banyak kreativitas akulturasi kultural dan budaya, kemudian distereotipkan sebagai praktik yang “tidak sesuai dengan budaya bangsa”.

Membicarakan film Indonesia kontemporer saat ini adalah membicarakan sebuah ruang yang sedang bergejolak dalam euforia kebangkitan industri perfilman dengan sineas-sineas muda di satu sisi, dan sebuah ruang yang masih saja diposisikan ‘sebagai yang wajib diawasi’ atas nama kepentingan budaya bangsa katanya, di sisi lainnya.

Menurut Kepala Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Maman Wijaya, menegaskan, kerarifan lokal sudah masuk bagian rancangan kebijakan Rencana Induk Perfilman Nasional (RIPN), dan telah membuka ruang bagi orang-orang film untuk bisa berkreasi, asalkan bisa mempropagandakan negeri ini melalui kearifan lokal sebagai tontonan bagi masyarakat dunia. Meskipun di satu sisi karya film tidak boleh dipakai sebagai corong Pemerintah.

Meski para sineas muda relatif mudah untuk menghasilkan film-film bermutu karena adanya SDM-SDM berkualitas, kemajuan teknologi maupun ada atau tidak ketersediaan dana, tetapi pemerintah rupanya tetap mempunyai kepentingan untuk mengawasi dan mengendalikan perkembangan film Indonesia. Seperti, LSF sebagai aparatus hegemonik yang berhak menggunting film-film sebagai penjaga moralitas bangsa.

Ambiguitas ini bukan saja merefleksikan betapa absurdnya bangsa ini, di satu sisi ingin bergerak maju, tetapi di sisi lain tetap berpegang dan berkutat pada nilai-nilai kultural yang sebenarnya sedari awal penuh dengan “realitas dan struktur yang tumpang-tindih”. Artinya, budaya Indonesia sejak awal memang dipenuhi dengan persilangan budaya. Coba tengok saja sejarahnya.

Realitas historis sebenarnya membuktikan bahwa pada dasarnya budaya Indonesia sangat terbuka terhadap masuknya pengaruh-pengaruh baru untuk disandingkan dengan nilai-nilai tradisional yang sudah ada dan berkembang dalam masyarakat secara turun-temurun. Kemampuan adaptif itulah yang menjadi ciri Indonesia, dan merupakan kekuatan yang membawa pencerahan kemajuan bangsa.

image

Tino Saroengallo, salah satu pembicara dalam acara dialog tersebut, mengatakan, “Pemerintah tidak perlu sok tahu dan masuk ke dunia industri film cerita. Termasuk, tidak perlu pula mencampuri urusan produksi film, apalagi kasih bantuan dana kepada para produsernya. Mereka, tanpa campur tangan pemerintah akan mencari sendiri investor, karena orientasinya bisnis semata,” jelas Tino, lantang.

Sebaiknya, Pemerintah cukup memfasilitasi berbagai kemudahan perijinan, membantu koordinasi dengan lembaga terkait apa yang dibutuhkan, agar produksi film bisa berjalan lancar hingga menghasilkan yang terbaik. Dan paling terpenting, Pemerintah sesegera mungkin mengatur tata kelola peredaran film itu sendiri, membantu pengadaan bioskop murah dengan harga tiket terjangkau sampai ke pelosok negeri, agar bisa dinikmati banyak orang.

Biarkan kearifan lokal bercokol di pola pikir sineas. Mereka tahu kapan dan dimana kearifan lokal itu akan ditempatkan atau diangkat dalam karya mereka. Jika memang ada anggaran untuk generasi muda filmmakers, saat ini yang dibutuhkan mereka adalah bantuan dana mulai dari pelatihan terkait teori hingga praktek, penguasaan dan ketersediaan teknologi alat yang terus berkembang, sampai pelaksanaan produksi dan peredarannya.|Edo (Foto Dudut SP)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed