Band Dirty Frank Kibarkan Eksistensi Bermusik Lewat Single Anyar ‘Cahaya Surga’

Music349 Dilihat

Urbannews | Setelah sukses merilis dua singlenya yaitu ‘Bangga Masuk TV’ dan Demokrasi Palsu pada 2021 lalu, Band Dirty Frank yang gawangi Yuddie Vedder Dhanurendra (vokal), Dewa Yudha (gitar) dan Dony Setiawan (drum), kembali menunjukkan eksistensinya dengan  merilis single ketiga berjudul ‘Cahaya Surga’.

Lagu ‘Cahaya Surga’ yang prosesnya memakan waktu sampai tiga (3) bulan ini, merupakan karya dari sang vokalis Yuddie Vedder atau yang akrab dipanggil YV. Menurut YV lirik lagu ini terinspirasi dari pemikiran bahwa semua orang bisa melihat cahaya surga, dan semua orang ingin menuju kesana. Tetapi belum tentu semua menggapainya.

“Liriknya dari lagu Cahaya Surga ini bercerita tentang titik akhir dari perjalanan manusia yang semuanya ingin ke surga, seburuk-buruknya tingkah laku manusia tentu ingin ke surga, meskipun jalannya terjal dan berliku. Namun sayangnya tak semua bisa menggapainya,” ungkap YV diacara intimate show di kawasan Kemang Jakarta Selatan, Sabtu (29/10/2022) malam.

Acara yang juga sekaligus memperkenalkan video musik Cahaya Surga, dimana proses pembuatannya dilakukan di daerah Bogor, atau tepatnya di Curuk Ciburial. YV menambahkan bahwa manusia harus intropeksi diri tentang apa yang pernah diperbuat di dunia ini, mengapa menjadikan jalan ke Surga menjadi penuh liku. “Jadi langkahnya bisa saja bertaubat agar bisa lebih baik dalam menjalani hidup,” tutur YV.

Ada catatan menarik dari obrolan Dirty Frank dengan awak media semalam. Band tanpa bassist ini, dan hanya mengandalkan additional player bassist, salah satunya Alex Kuple. Dirty Frank terlihat sebagai band project personalnya sang vokalis Yuddie Vedder Dhanurendra atau YV. Seperti diungkapkan oleh Dony Setiawan (drum) bahwa Dirty Frank CEO-nya YV, sedangkan Doni dan Dewa hanya pegawainya.

Jika benar seperti ini, kenapa YV harus juga bikin proyek solo, kenapa tidak sekalian Dirty Frank jadi proyek solonya dalam format band, seperti Andra and The BackBone misalnya. Atau, Dirty Frank di bentuk jadi semacam band brand, dimana personal yang terlibat berhak memiliki saham di dalamnya. Jika kelak, Dirty Frank populer dan memiliki nama besar, kemudian pundi-pundi rejeki terisi, para personal yang terlibat dan ikut andil membesarkan, sebagai keluarga (bukan pegawai :red) dapat menikmati hasil lewat sahamnya, bukan sekedar gaji.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *