by

Album dan Konser “Zentuary” Dewa Budjana di Yogyakarta!

-On Stage-93 views

image

Jakarta, UrbannewsID.| I Dewa Gede Budjana atau yang lebih dikenal dengan nama Dewa Budjana seolah tak pernah usai mendentingkan dawainya merasuk kedalam karya. Betapa tidak, bagi Dewa Budjana musik merupakan refleksi dari sebuah perjalanan spiritual. Menurut Budjana, dalam komposisi terkandung gagasan, pemikiran, perenungan, keprihatinan, emosi, dan gejolak jiwa. Tapi, dia tak menuliskannya dengan kata-kata, melainkan dengan melodi dawai gitarnya.

Budjana yang lahir pada 30 Agustus 1963 di Waikabubak, Sumba Barat ini mengungkapkan, bermusik yang dilakoninya puluhan tahun sama halnya dengan laku hidup yang dijalaninya sehari-hari. Selalu saja ada tempatnya yang hening dan teduh untuk meluluhkan, mengendapkan segala hiruk pikuk kehidupan. “Dalam kondisi gonjang-ganjing seperti ini misalnya, kita perlu tempat yang teduh!,” ujar Budjana, saat dijumpai di Dapur Sunda, Rabu (16/11), dalam rangka konser tunggalnya di Yogyakarta nanti.

Maka, tidak heran jika perjalanan hidup yang dilakoni Budjana selalu dirangkum kedalam bahasa musik melalui karya-karya, mulai dari album perdana Nusa Damai (1997), Gitarku (2000), Samsara (2003), Home (2005), Dawai in Paradise (2011), Joged Kahyangan (2013), Surya Namaskar (2014), Hasta Karma (2015), termasuk yang teranyar album “Zentuary” yang dikemas double-CD, dan diedarkan melalui label Favored Nations Entertainment.

imageDalam album Zentuary, Dewa Budjana didukung para musisi kawakan kelas dunia, yakni Jack de Johnette, Tony Levin, dan Gary Husband. Tak hanya itu, ia juga didukung Guthrie Govan (electric guitar), Tim Garland dan Danny Markovitc (saxophone). Selain itu, juga melibatkan Czech Syomphony Orchestra. Selain nama-nama kelas dunia, Dewa Budjana juga melibatkan para musisi dan penyanyi Indonesia seperti Saat Syah (traditional flute), Nyak Ina Raseuki dan Risa Saraswati(vocal/voices).

Zentuary sendiri sebuah penggabungan dua kata, Zen dan Sanctuary. Lagi-lagi ini merupakan refleksi seorang Dewa Budjana yang memotret dirinya sendiri sepanjang perjalanan hidupnya. Menurutnya, setiap awal pasti akan memiliki akhir, terlepas dari sebuah keinginan yang bertentangan. “Saya percaya Zen adalah titik awal dan akan selalu menjadi titik awal di tempat kudus. Nol tidak selalu berarti tidak ada! Itulah makna sesungguhnya dari Zentuary itu,” terang Budjana lagi.

Dengan musik memang semuanya akan menjadi lebih mudah. Yang paling abstrak pun di dunia nyata sulit bertemu, di dalam musik bisa diketemukan dengan mudah. Contohnya, Chord-chord mayor misalnya bisa ditabrakkan dengan chord minor. Tapi, semua tergantung cara membacanya dan menginterpretasinya, kemudian terpenting mampu menterjemahkan untuk bisa berdialog dengan bahasa musik. Walau instrumen musik menghasilkan beragam bunyi, tapi dia mampu menghasilkan harmoni yang enak didengar.

image

Komposisi Budjana dalam Zentuary penuh muatan nuansa ethnic kental (world music) dengan atmosfir warna jazz yang sudah disebarluaskan secara worldwide sejak Oktober silam. Langsung disambut baik oleh Lemmon Production, album Zentuary yang rencananya akan diedarkan secara resmi di Indonesia ini dikemas lewat sebuah konser eksklusif yang mengambil tempat di Taman Tebing Breksi yang terletak di kawasan perbukitan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, pada 25 November mendatang.

Deasy Miranti Rostianty sang produser konser dari Lemmon Productiaon, mengatakan,”Pilahan Jogya sebagai tempat konser Dewa Budjana, sebagai sebuah destinasi wisata yang masih kental dengan kulturalnya sangat ngepas dengan komposisi musik album Zentuary Budjana dengan unsur etnik yang selalu melekat. Kita juga ingin menyampaikan, musik tidak saja hanya bisa didengar tapi juga bisa dilihat. Karena, dalam setiap lagu selalu ada cerita tersendiri yang melatarinya,” jelas Deasy.

imageGagasan memperkenalkan album terbaru Zentuary lewat gelaran konser di alam terbuka ini, disambut baik oleh Dewa Budjana. Menurutnya, Tebing Breksi di Yogyakarta yang akan menjadi background ini mengingatkan pada video Pink Floyd yang bermain diatas batu. Budjana ingin menyuguhkan sesuatu yang beda, menyatukan harmonisasi musiknya dengan atmosfir alam. Tebing Breksi adalah tempat yang tepat dan strategis, serta belum terjamah oleh kebanyakan orang, sangat pas dengan konsep album ‘Zentuary’ yang instrumental untuk menyejukkan telinga dan enak dilihat.

Oleg Sanchabachtiar yang didampuk sebagai Art Director di konser ini, mencoba menterjemahkan lirik setiap lagu yang ada di album Zentuary kedalam bentuk visual. Tebing Breksi akan menjadi latar belakangnya dengan tata panggung, sound, dan juga lighting akan menyatu dengan alam sekitar venue. Oleg dalam konser Zentuary nanti ingin menumbuhkan rasa pertemanan, saling berbagi, cinta dan juga kasih sayang antar sesama, termasuk juga dengan alam yang penuh dengan kedamaian.

Konser Zentuary yang dipersembahkan secara gratis untuk para pecinta musik di tanah air ini. Dewa Budjana akan didukung banyak musisi tanah air seperti Shadu Rasjidi (electric bass), Marthin Siahaan (keyboard), Irsa Destiwi (piano/keyboard), Demas Narawangsa (drums), Jalu G. Pratidina (perkusi), Rega Dauna (harmonika) dan tentunya, Saat Syah. Akan ikut tampil para vokalis, Sruti Respati, Asterika Widiantini, serta musisilokal Yogyakarta seperti Singgih Sanjaya String Orchestra dan Anon Suneko Omah Gamelan.|Edo (Foto Dudut SP)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed